Sabtu, 18 April 2009

Perpustakaan dan Politik (Rak) Buku

Oleh Diana AV Sasa

Rak buku itu ada di Perpustakaan Altroph, Northtampton. Bentuknya seperti kincir raksasa yang terbelah. Menjulang tinggi hingga 6 kaki. Anak tangganya terurai ke bawah membentuk pola spiral memanjang. Di puncak tangga ada sebuah kursi tinggi dengan mimbar untuk membaca. Siapa saja yang duduk di sana akan merasa seperti berada di atas sebuah menara pengawas. Mirip para sipir di menara bui Panopticon yang digambarkan filsuf Prancis, Michel Foucault, untuk mendeskripsikan bagaimana sel-sel kekuasaan bekerja.

John King adalah orang yang merancang perpustakaan dengan konsep unik itu. Bagi John, perpustakaan adalah sebuah ruang yang memiliki filsafat bertingkat. Setiap buku memiliki tingkatan yang berbeda. Isi dari buku menunjukkan pada tingkatan di mana ia berada. Semakin berkualitas isinya, maka semakin tinggi letaknya. Ini melambangkan usaha yang harus diupayakan untuk menguasai isinya. Untuk menguasai buku pada tingkatan tinggi juga dibutuhkan tingkat pemahaman dan keterampilan membaca yang tinggi. Perpustakaan dengan tangga besar yang meliuk-liuk itu mewakili usaha berliku tersebut.

Tahulah kita, bahwa sebagai organisme hidup buku pun memiliki hirarki (sosial). Filsuf muslim Ziauddin Sardar pernah memerikan bagaimana para ulama menyusun kitab dalam rak. Rak bagian atas mestilah dihuni Alquran, lalu kitab Hadis, dan berikutnya kitab-kitab yang disusun para sahabat, seterusnya demikian. Penyusunan itu tentu saja didorong dari cara melihat fungsi dan posisi sebuah buku yang tergali dari arkeologi sadar (iman) pembacanya.

Baik John King maupun Sardar ingin mengatakan bahwa bagaimana pun buku memiliki ruang. Dengan ruang itu, buku membentuk tingkatan dan menunjukkan cakupannya. Ruang itu begitu luas, tak berbatas, dan sewaktu-waktu bisa berubah. Ketika kita memilih sebuah rak dan menentukan ragam buku apa yang akan mengisinya, secara tidak langsung kita tengah membentuk sebuah ruang bagi buku. Buku satu dengan buku lainnya saling melengkapi dan memenuhi ruang yang tersedia. Jika masih ada tempat yang lowong, maka kita akan terpicu untuk memenuhinya dengan buku lain. Persis seperti batu bata yang bersusun rapi membentuk dinding sebuah ruangan. Buku-buku itu akan berpadu satu dengan yang lain. Menciptakan ruang tersendiri. Isi buku yang satu melengkapi buku yang lain.

Tapi rak bukan hanya soal menata dinding buku. Ia juga adalah soal politik ruang. Sebut saja “politik rak”. Dalam politik ruang, setiap tempat, setiap lahan, menjadi frontier yang diperebutkan oleh siapa pun untuk menunjukkan kekuasaannya. Jika si pemilik ruang atau rak memiliki orientasi politik (wacana) kepada isme tertentu, maka pastilah buku-buku yang mendukung isme itu yang akan mendapatkan tempat di rak yang memiliki aksesibilitas lebih mudah dijangkau atau dilihat oleh tamu atau pengunjung.

Jika pemilik rak itu seorang yang ingin orang lain melihatnya pribadi yang religius, maka pastilah buku-buku yang menghuni rak paling depan dan mewah adalah sederet kitab-kitab suci. Tak peduli buku-buku itu dibacanya atau tidak. Sebab ini soal politik citra diri dan itu menjadi mungkin oleh bantuan (politik) rak.

Di mana-mana politik rak ini kita bisa saksikan. Di sebuah toko buku, rak paling depan akan menjadi rebutan banyak penerbit. Bahkan tak jarang penerbit berkemampuan finansial yang besar tak sungkan mengeluarkan dana ekstra untuk mendapatkan hak penuh di rak paling depan. Dan implikasi dari politik rak ini jelas, sekali sebuah buku masuk ke rak paling belakang atau sudut, vonis nasib buku itu sudah pasti: tercampak di gudang.

Beberapa perpustakaan berbasis komunitas atau hobi, bahkan politik raknya lebih ekstrim. Mereka menolak semua buku yang dianggap di luar minatnya. Salah satu adegan paling menarik soal itu bisa kita tonton dalam film Notting Hill. William Thacker, si pemilik toko buku, mengusir dengan kasar para pembeli yang menanyakan novel di dalam toko bukunya. Pasalnya, toko buku ini hanya menjual buku-buku perjalanan (travel book). Dan pengetahuan di kepala Thacker, hanyalah soal perjalanan. Materi yang sangat dikuasainya.

Ruth Baldwin, seorang kolektor buku terkemuka dari Amerika, mempersembahkan hidupnya hanya untuk memburu buku-buku tentang anak abad 18, 19, dan 20. Dan pencarian yang meletihkan menghasilkan sekira 90 ribu volume yang dipundaki rak khusus berskala raksasa di kampus Gainnesville, Universitas Florida. Rak Baldwin, sebagaimana sosoknya, menolak buku-buku selain yang berkisah tentang anak. Karena memang ia ingin dikenang masyarakat buku sebagai kolektor buku anak terbesar sejagat.

Lain lagi Walter Lionel Pforzheimer. Pengacara, kurator buku, dan agen kondang CIA (Center Intelligence Agent) ini hanya mau rak bukunya diisi oleh buku soal mata-mata (spy). Sebut saja koleksi langka autobiografi beberapa mata-mata; termasuk Memoirs of Secret Service (1699) karya Matthew Smith. Ditambah lagi salinan dari Warren Commission Report atas asasinasi Presiden John F. Kennedy yang ditandatangani semua komisioner. Bahkan di raknya juga terselip surat rahasia George Washington tertanggal 26 Juli 1777 yang ditujukan pada Kolonel Elias Dayton, kepala bagian intel Washington di New Jersey. Rak buku Pforzheimer itu disebut sebagai rak buku mata-mata terbesar dan menjadi rujukan studi tentang intelijen dunia.

Rak buku dengan sendirinya juga telah menjadi ruang eksplorasi dan sekaligus nisan bagi pemiliknya. Nama Walter dan Ruth terukir abadi sebagai pemilik rak buku dengan koleksi yang menakjubkan. Ketika mereka tiada, rak buku itu tetap menghidupkan nama mereka. Di sinilah letak politik rak buku itu. Rak buku dibuat untuk menunjukkan kebesaran pemiliknya. Unjuk kehebatan atas koleksi yang luar biasa. Mencerminkan pribadi sang pemiliknya. Kian megah, kian bergengsi. Sebuah bentuk pamer kekuasaan melalui rak buku.

Jelas sudah bagaimana posisi buku dalam rak itu telah menciptakan sebuah ruang tersendiri bagi buku. Rak buku bukan semata rongga-rongga kosong yang menjadi sarang buku. Rak-rak itu membentuk sistem ruang yang sistematik. Setiap tingkatan mewakili kebesaran kekuasaan yang mencakupinya. Semakin tinggi letaknya, makin di depan jajarannya, maka kian berkuasa, sakral dan diagungkan buku itu. Kelasnya pun meningkat dari buku yang sekadar layak dimiliki, menjadi buku yang wajib dikoleksi dan dibaca. Tertinggi dan terdepan menjadi sebuah perebutan pengakuan eksistensi dan kualitas isi sebuah buku. Dan permainan kuasa itu bisa dilihat miniaturnya dalam rak buku.

[Diana AV Sasa, pencinta buku. Tinggal di Surabaya #0852 32 444 023]

1 komentar:

Ahmad Subhan mengatakan...

Konon Bung Hatta juga menyusun koleksi bukunya berdasarkan urutan prioritas buku mana yang perlu dibaca terlebih dahulu. Kalau memang benar seperti itu, susunan tersebut bukanlah semacam peringkat nilai buku, sebagaimana hirarki yang diulas dalam tulisan "Perpustakaan dan Politik (Rak) Buku".