<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759</id><updated>2011-07-07T15:20:29.422-07:00</updated><category term='Buku Pilihan'/><title type='text'>Ibuku Perpustakaan</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-3116667575701151022</id><published>2009-06-13T22:49:00.000-07:00</published><updated>2009-06-13T22:55:30.318-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku Pilihan'/><title type='text'>10 Buku Pilihan Pekan Ini</title><content type='html'>Tambahkan rak buku Anda dengan “10 Pilihan Pekan Ini” yang direkomendasikan oleh &lt;i&gt;Media Indonesia, Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Republika&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;An Ismanto dkk, I:BOEKOE, 2009, 1.001 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SjSP83Oej1I/AAAAAAAAAXo/UrYs_3Ov-_Y/s1600-h/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 127px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SjSP83Oej1I/AAAAAAAAAXo/UrYs_3Ov-_Y/s200/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347056933375217490" /&gt;&lt;/a&gt;Buku ini bisa menjadi semacam kamus atau ensiklopedia dunia sastra Indonesia yang memuat karya terbaik sepanjang masa, baik pra maupun pascakemerdekaan. Meskipun karya ini masih terbilang baru, tapi ia mempunyai banyak kelebihan yang tidak dimiliki karya-karya sastra lain. Di dalamnya dibedah dan disajikan secara terperinci tentang karya-karya sastra Indonesia yang diperkirakan mampu mewakili dan banyak menjadi referensi dunia sastra. Dari karya sastra klasik sebelum kemerdekaan hingga karya sastra modern pascakemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Ilusi Negara Islam (Ekspansi Gerakan Islam Transnasionalis di Indonesia)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Abdurrahman Wahid (ed), The Wahid Institute, Bhinneka Tunggal Ika &amp; Maarif Institute, April 2009, 322 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelitian di 24 kota/daerah yang tersebar di 17 provinsi dan berlangsung tak kurang dua tahun, diperoleh fakta bahwa ajaran dan pandangan gerakan Islam transnasionalis telah menyebar dalam sejumlah ormas dan bahkan parpol di tanah air. Penelitian ini menyebut mereka sebagai Islam garis keras, baik di tataran individu maupun kelompok (organisasi) dengan ciri menganut pemutlakan pemahaman agama, bersikap tidak toleran terhadap keyakinan dan pandangan berbeda, hingga menginginkan adanya dasar dan bentuk Negara Islam atau Khilafah Islamiyah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Persahabatan (Lysis): Mari Berbincang Bersama Plato&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;A Setyo Wibowo (penerjemah), Indonesia Publishing, 2009, 137 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks yang diterjemahkan ini diperkirakan ditulis Plato waktu ia masih muda. Lysis adalah dialog, seperti hampir semua tulisan Plato. Sokrates, yang selalu menjadi corong Plato dalam dialog-dialognya, sedang berjalan di taman Akademia—sekolah di mana Plato mengajar. Di situ ia bertemu dengan beberapa pemuda dan mulai berdiskusi dengan mereka. Masalah yang mereka persoalkan adalah persahabatan. Segi lain pentingnya buku ini adalah sebagai ”demonstrasi” sebuah dialog hakiki. Lysis adalah dialog sejati, bukan traktat yang demi main-main diberi bentuk dialog. Meskipun Sokrates dengan segala kepintarannya mengemudikan arah dialog itu, dialog itu kelihatan tidak mempunyai arah yang jelas. Tetap bebas. Lain dari, misalnya, uraian Aristoteles tentang persahabatan dalam buku 8 dan 9 Etika Nikomacheia, dialog Lysis tidak maju secara sistematik, tetapi berliku-liku, ada pendapat silang, loncatan dalam argumentasi, dan kesimpulan yang sepertinya tidak dapat disimpulkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Kritik Ideologi: Menyingkap Kepentingan Pengetahuan bersama Jurgen Habermas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;F Budi Hardiman, Buku Baik, 2004, 124 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurgen Habermas tidak diragukan lagi merupakan filsuf Jerman terpenting dewasa ini.Tulisan-tulisannya lebih dari 20 tahun dibicarakan di fakultas-fakultas filsafat Eropa kontinental. Buku ini menyajikan pemikiran Habermas seputar pengembangan sebuah teori kritis masyarakat secara mendalam dan mendasar. Juga memberi penguraian atas filsafat sains kontemporer, ilmu-ilmu sosial kritis, dan berbagai problem kemanusiaan dalam masyarakat akibat dominasi sistem ekonomi kapitalis, seperti alienasi, marginalisasi, dan hegemoni sains. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Dari Karyawan Menjadi Juragan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Erie Sasmito, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki keinginan untuk mendapatkan posisi nyaman atas pekerjaan dengan gaji rutin, memang bukan hal yang salah. Tidak semua orang berani untuk mengambil risiko keluar dari zona nyaman itu dan mencoba menghadapi peruntungan atas usahanya. Tidak mengherankan jika dari kesuluruhan populasi di Indonesia hanya 0,18 persen yang berani memilih sebagai pelaku usaha. Buku ini menantang Anda untuk menjadi majikan atas diri sendiri, memberi gaji kepada diri sendiri atas setiap tetes keringat yang dikeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Berpikir Seperti Nabi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fauz Noor, LKiS, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini ingin mengajukan gagasan yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita. Yakni tentang cara berpikir nabi. Bagaimanakah cara nabi berpikir sehingga ia dapat memberikan jawaban yang berbeda untuk pertanyaan yang sama ketika pertanyaan tersebut dilemparkan oleh dua orang yang berbeda karakter? Bagaimana jalan pikir nabi hingga ia mengeluarkan sabda? Bagaimana ide cemerlang meloncat dalam pikiran nabi sedemikian hingga dalam waktu kurang dari seperempat abad sudah berhasil meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi kecemerlangan peradaban Islam? Bagaimana cara nabi berpikir sehingga pikirannya tidak kebablasan dan menjadi kufur? Buku ini menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;7. Tribes: Andalah Pemimpin yang Kami Cari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seth Godin, One Publishing, 2009, 144 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tribe adalah sekelompok orang yang terhubung karena sebuah ide dan seorang pemimpin. Sejak berjuta tahun lalu, manusia jadi bagian dari tribe atas dasar agama, etnik, politik, atau bahkan sekadar musik. Tapi siapa yang layak jadi pemimpin? Diakah orang yang hanya bisa mengumbar janji? Diakah orang yang sanggup memoles citra diri dan kepopuleran dengan modal besar? Penulis buku ini mengatakan kepemimpinan harus berasal dari individu yang memiliki hasrat mewujudkan impian. Orang yang mau membuat perubahan. Karena itu, pemimpin bisa jadi siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;8. Disguised (Sang Penyamar)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rita la Fontaine de Clercq Zubli, GPU, Mei 2009, 377 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terbit pertama kali di Amerika Serikat pada 2001 dengan judul Disguised: A Teenage Girl's Survival in World War II Japanese Prison Camps, buku ini menghilang begitu saja. Kisah Rita ini tak akan sampai ke Indonesia andai penulis buku anak, Alison Morris, tak gigih mencari jejak keberadaannya. Berkisah tentang Rita la Fontaine de Clercq Zubli menjadi lelaki selama tiga bulan lebih. Itu terjadi di masa pendudukan Jepang di Indonesia. Rita menceritakan ulang kisah hidupnya itu dalam enam bagian berdasarkan bulan-bulan ia menjadi tawanan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;9. How to Talk so Kids will Listen and Listen so Kids Will Talk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adele Faber dan Elaine Mazlish, Lentera Hati, 363 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menawarkan konsep menarik mengatasi kesulitan komunikasi antara orangtua dan anak. Keduanya pakar komunikasi ortu-anak yang telah diakui secara internasional. Walaupun terjemahan dari buku Amerika Serikat, tetapi buku ini bisa dijadikan rujukan setiap orangtua di seluruh dunia. Karena kesulitan komunikasi antara orangtua dan buah hatinya relatif terjadi di mana pun, termasuk di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;10. Nge-Blog dengan Hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ndoro Kakung, GagasMedia, 2009, 144 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini lebih berupa tip dan anjuran agar ngeblog tak diniatkan untuk menaikkan trafik kunjungan, untuk mencari uang, atau malah akal-akalan saja. Barangkali dengan membaca buku ini para blogger bisa terinspirasi dan tertulari spirit ngeblog ala Ndoro Kakung. Keyword penting dan perlu diresapi adalah soal ''berbagi'', eksperimen, dan interaksi di dunia maya. Bagaimana kabar spirit ngeblog Anda saat ini? Bila masih loyo silakan simak saja buku ini. Mungkin buku ini bisa jadi sebuah saklar untuk menggairahkan kembali hasrat menulis dan berbagi di dunia maya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-3116667575701151022?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/3116667575701151022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=3116667575701151022' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/3116667575701151022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/3116667575701151022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2009/06/10-buku-pilihan-pekan-ini.html' title='10 Buku Pilihan Pekan Ini'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/SjSP83Oej1I/AAAAAAAAAXo/UrYs_3Ov-_Y/s72-c/Seratus+Buku+Sastra+Indonesia_HITAM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-3347213290502917926</id><published>2009-05-30T19:14:00.000-07:00</published><updated>2009-05-30T19:15:59.687-07:00</updated><title type='text'>Koleksi Perpustakaan Daerah Minim</title><content type='html'>Minat baca anak-anak saat ini sudah cukup meningkat, meski sayangnya tak diimbangi oleh jumlah koleksi buku. "Masalah sekarang bukan pada minatnya, tapi koleksinya yang tidak bertambah," kata Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia T. Syamsul Bahri di Jakarta (14/4).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Syamsul, hampir semua perpustakaan di daerah mengalami kekurangan koleksi dan minta dikirimi buku dari pusat. Beberapa daerah sudah membangun gedung perpustakaan yang bagus, tapi isinya ternyata tak lengkap. Hingga kini tercatat ada 345 perpustakaan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Nasional sejak 2004 sudah mencanangkan bantuan untuk perpustakaan lokal berupa dana tunai. Pada 2007 tercatat 100 perpustakaan di kabupaten dan kota yang mendapat bantuan masing-masing Rp 70 juta. "Sebanyak 60 persennya untuk buku dan bahan bacaan," kata Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Sri Sularsih. Tahun ini ada 100 kabupaten dan kota yang akan memperoleh bantuan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sri Sularsih, sepertiga perpustakaan daerah koleksinya masih 50 ribu buku. Bahkan ada yang hanya 20 ribu koleksi buku. Kota Malang dan Pekanbaru, kata dia, punya perpustakaan lengkap karena pendanaan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kewajiban menyediakan anggaran untuk perpustakaan lokal memang tidak disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. "Saat itu ditakutkan akan berbenturan dengan Undang-Undang Otonomi daerah," dia menjelaskan. Antisipasinya, ada kewajiban untuk menganggarkan 5 persen dari total anggaran sekolah untuk pengelolaan perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan ini, kata dia, agar perpustakaan sekolah lebih baik daripada perpustakaan milik pemerintah maupun swasta. Hanya, kata dia, anggaran 5 persen ini belum dijalankan sekolah-sekolah. Kini ia berharap ada peraturan pemerintah sebagai penjabaran dari Undang-Undang Perpustakaan yang mengatur dengan tegas kewajiban 5 persen anggaran sekolah untuk perpustakaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Koran Tempo Edisi 15 Mei 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-3347213290502917926?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/3347213290502917926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=3347213290502917926' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/3347213290502917926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/3347213290502917926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2009/05/koleksi-perpustakaan-daerah-minim.html' title='Koleksi Perpustakaan Daerah Minim'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-8545329805319575156</id><published>2009-04-18T11:07:00.001-07:00</published><updated>2009-04-18T11:11:31.864-07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan dan Politik (Rak) Buku</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh Diana AV Sasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rak buku itu ada di Perpustakaan Altroph, Northtampton. Bentuknya seperti kincir raksasa yang terbelah. Menjulang tinggi  hingga 6 kaki. Anak tangganya terurai ke bawah membentuk pola spiral memanjang. Di puncak tangga ada sebuah kursi tinggi dengan mimbar untuk membaca. Siapa saja yang duduk di sana akan merasa seperti  berada di atas sebuah menara pengawas. Mirip para sipir di menara bui Panopticon yang digambarkan filsuf Prancis, Michel Foucault, untuk mendeskripsikan bagaimana sel-sel kekuasaan bekerja.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;John King adalah orang yang merancang perpustakaan dengan konsep unik itu. Bagi John, perpustakaan adalah sebuah ruang yang memiliki filsafat bertingkat. Setiap buku memiliki tingkatan yang berbeda. Isi dari buku menunjukkan pada tingkatan di mana ia berada. Semakin berkualitas isinya, maka semakin tinggi letaknya. Ini melambangkan usaha yang harus diupayakan untuk menguasai isinya. Untuk menguasai buku pada tingkatan tinggi juga dibutuhkan tingkat pemahaman dan keterampilan membaca yang tinggi. Perpustakaan dengan tangga besar yang meliuk-liuk itu mewakili usaha berliku tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahulah kita, bahwa sebagai organisme hidup buku pun memiliki hirarki (sosial). Filsuf muslim Ziauddin Sardar pernah memerikan bagaimana para ulama menyusun kitab dalam rak. Rak bagian atas mestilah dihuni Alquran, lalu kitab Hadis, dan berikutnya kitab-kitab yang disusun para sahabat, seterusnya demikian. Penyusunan itu tentu saja didorong dari cara melihat fungsi dan posisi sebuah buku yang tergali dari arkeologi sadar (iman) pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik John King maupun Sardar ingin mengatakan bahwa bagaimana pun buku memiliki ruang. Dengan ruang itu, buku membentuk tingkatan dan menunjukkan cakupannya. Ruang itu begitu luas, tak berbatas, dan sewaktu-waktu bisa berubah. Ketika kita memilih sebuah rak dan menentukan ragam buku apa yang akan mengisinya, secara tidak langsung kita tengah membentuk sebuah ruang bagi buku.  Buku satu dengan buku lainnya saling melengkapi dan memenuhi ruang yang tersedia. Jika masih ada tempat yang lowong, maka kita akan terpicu untuk memenuhinya dengan buku lain. Persis seperti batu bata yang bersusun rapi membentuk dinding sebuah ruangan. Buku-buku itu akan berpadu satu dengan yang lain. Menciptakan ruang tersendiri. Isi buku yang satu melengkapi buku yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rak bukan hanya soal menata dinding buku. Ia juga adalah soal politik ruang. Sebut saja “politik rak”. Dalam politik ruang, setiap tempat, setiap lahan, menjadi frontier yang diperebutkan oleh siapa pun untuk menunjukkan kekuasaannya. Jika si pemilik ruang atau rak memiliki orientasi politik (wacana) kepada isme tertentu, maka pastilah buku-buku yang mendukung isme itu yang akan mendapatkan tempat di rak yang memiliki aksesibilitas lebih mudah dijangkau atau dilihat oleh tamu atau pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pemilik rak itu seorang yang ingin orang lain melihatnya pribadi yang religius, maka pastilah buku-buku yang menghuni rak paling depan dan mewah adalah sederet kitab-kitab suci. Tak peduli buku-buku itu dibacanya atau tidak. Sebab ini soal politik citra diri dan itu menjadi mungkin oleh bantuan (politik) rak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana-mana politik rak ini kita bisa saksikan. Di sebuah toko buku, rak paling depan akan menjadi rebutan banyak penerbit. Bahkan tak jarang penerbit berkemampuan finansial yang besar tak sungkan mengeluarkan dana ekstra untuk mendapatkan hak penuh di rak paling depan. Dan implikasi dari politik rak ini jelas, sekali sebuah buku masuk ke rak paling belakang atau sudut, vonis nasib buku itu sudah pasti: tercampak di gudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa perpustakaan berbasis komunitas atau hobi, bahkan politik raknya lebih ekstrim. Mereka menolak semua buku yang dianggap di luar minatnya. Salah satu adegan paling menarik soal itu bisa kita tonton dalam film Notting Hill. William Thacker, si pemilik toko buku, mengusir dengan kasar para pembeli yang menanyakan novel di dalam toko bukunya. Pasalnya, toko buku ini hanya menjual buku-buku perjalanan (travel book). Dan pengetahuan di kepala Thacker, hanyalah soal perjalanan. Materi yang sangat dikuasainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruth Baldwin, seorang kolektor buku terkemuka dari Amerika, mempersembahkan hidupnya hanya untuk memburu buku-buku tentang anak abad 18, 19, dan 20. Dan pencarian yang meletihkan menghasilkan sekira 90 ribu volume yang dipundaki rak khusus berskala raksasa di kampus Gainnesville, Universitas Florida. Rak Baldwin, sebagaimana sosoknya, menolak buku-buku selain yang berkisah tentang anak. Karena memang ia ingin dikenang masyarakat buku sebagai kolektor buku anak terbesar sejagat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi Walter Lionel Pforzheimer. Pengacara, kurator buku, dan agen kondang CIA (Center Intelligence Agent) ini hanya mau rak bukunya diisi oleh buku soal mata-mata (spy). Sebut saja koleksi langka autobiografi beberapa mata-mata; termasuk Memoirs of Secret Service (1699) karya Matthew Smith. Ditambah lagi salinan dari Warren Commission Report atas asasinasi Presiden John F. Kennedy yang ditandatangani semua komisioner. Bahkan di raknya juga terselip surat rahasia George Washington tertanggal 26 Juli 1777 yang ditujukan pada Kolonel Elias Dayton, kepala bagian intel Washington di New Jersey. Rak buku Pforzheimer itu disebut sebagai rak buku mata-mata terbesar dan menjadi rujukan studi tentang intelijen dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rak buku dengan sendirinya juga telah menjadi ruang eksplorasi dan sekaligus nisan bagi pemiliknya. Nama Walter dan Ruth terukir abadi sebagai pemilik rak buku dengan koleksi yang menakjubkan. Ketika mereka tiada, rak buku itu tetap menghidupkan nama mereka. Di sinilah letak politik rak buku itu. Rak buku dibuat untuk menunjukkan kebesaran pemiliknya. Unjuk kehebatan atas koleksi yang luar biasa. Mencerminkan pribadi sang pemiliknya. Kian megah, kian bergengsi. Sebuah bentuk pamer kekuasaan melalui rak buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sudah bagaimana posisi buku dalam rak itu telah menciptakan sebuah ruang tersendiri bagi buku. Rak buku bukan semata rongga-rongga kosong yang menjadi sarang buku. Rak-rak itu membentuk sistem ruang yang sistematik. Setiap tingkatan mewakili kebesaran kekuasaan yang mencakupinya. Semakin tinggi letaknya, makin di depan jajarannya, maka kian berkuasa, sakral dan diagungkan buku itu. Kelasnya pun meningkat dari buku yang sekadar layak dimiliki, menjadi buku yang wajib dikoleksi dan dibaca. Tertinggi dan terdepan menjadi sebuah perebutan pengakuan eksistensi dan kualitas isi sebuah buku. Dan permainan kuasa itu bisa dilihat miniaturnya dalam rak buku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diana AV Sasa, pencinta buku. Tinggal di Surabaya #0852 32 444 023]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-8545329805319575156?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/8545329805319575156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=8545329805319575156' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/8545329805319575156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/8545329805319575156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2009/04/perpustakaan-dan-politik-rak-buku.html' title='Perpustakaan dan Politik (Rak) Buku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-2813887963739537923</id><published>2008-05-20T18:11:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T18:13:09.022-07:00</updated><title type='text'>1001 BUKU, Menyebar Buku Hingga ke Papua</title><content type='html'>Serombongan murid sekolah dasar berkerumun di sebuah stand di Green Fest, festival lingkungan di Jakarta, sebulan lalu. Mereka sibuk memilih-milih pin. Harga pin Rp 1.000 itu relatif tak memberatkan anak-anak tersebut. Tapi dengan uang itu mereka sudah membantu 1001buku memasyarakatkan buku.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkumpulan 1001buku--didirikan pada Mei 2002 oleh Upit Djalins, Ida Sitompul, dan Tanti Soekanto, para ibu yang peduli pada minat baca anak-anak--adalah salah satu gerakan memasyarakatkan buku yang marak beberapa tahun terakhir. Contoh lain: Yayasan Bunda Yessy, yang didirikan Yasmine Yessy Gusman, aktris 1970-an. Mereka mengumpulkan dan menyebarkan bahan bacaan kepada anak-anak yang kurang beruntung melalui taman-taman bacaan. Donaturnya bisa instansi pemerintah, perusahaan swasta, atau perorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1001buku punya cara unik untuk mengumpulkan buku. "Kami punya book drop box (kotak penampungan buku)," ujar penanggung jawab kegiatan 1001buku, Agus Rahmat Hidayat, yang ditemui Tempo di Green Fest. Kotak untuk menampung buku sumbangan dermawan itu diletakkan di sembilan lokasi di Jakarta, di antaranya kantor-kantor perusahaan swasta. Dengan cara ini, kata Rahmat, didapat sekitar 500 buku dalam sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, 1001buku menjalin kerja sama dengan penerbit-penerbit buku dan majalah. Hal yang sama juga dilakukan oleh Yessy cs. Tapi Yessy cs tidak menghimpun buku dengan kotak penampungan. "Sempat terpikir, tapi belum kami lakukan," ujar Wina, asisten Yessy, di Taman Bacaan Namira di Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu dua pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara itu, ribuan bahkan jutaan buku terkumpul, lalu disebar ke taman-taman bacaan di berbagai daerah di seluruh Indonesia. "Kami telah mengirim ke 200 taman bacaan anak dari Aceh sampai Papua," ujar Rahmat, yang sehari-hari bekerja di satu penerbit di Jakarta. Setahun, 1001buku mengirim sekitar 3-4 kali kepada taman bacaan yang mengajukan permintaannya melalui situs 1001buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Yessy, yang didirikan pada Desember 1999, telah mengirim buku ke 400 taman bacaan di luar Jakarta dan sekitar 100 taman bacaan di Jakarta. Taman bacaan di Jawa yang paling sering minta bantuan, sedangkan dari luar Jawa sekitar tiga bulan sekali. Tiap bulan total bisa 20 taman bacaan. Jika permintaan disetujui, tiap taman bacaan mendapat bantuan 100 buku. Yayasan memprioritaskan taman bacaan di perkampungan terpencil, lingkungan kumuh, dan untuk anak-anak kurang beruntung. Bagaimana mengenalinya lewat surat? "Dari bahasa dan tulisan suratnya yang (relatif) kurang baik, serta alamat pengirim," ujar Wina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mudah menghimpun bantuan, ada saja kendalanya. Yang dihadapi 1001buku di antaranya adalah dana dan sumber daya manusia. Beberapa waktu sebelumnya, kata Rahmat, banyak donatur yang berniat memberi dana. Tapi karena ogah ribet dengan pertanggungjawaban keuangan, perkumpulan ini hanya menerima bantuan buku. Lama-lama pengiriman memerlukan biaya yang tidak sedikit. Apalagi makin lama biaya pengiriman makin mahal. "Jadi telat (menyadari), setelah dipikir-pikir perlu (dana) juga," kata Rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat 1001buku bertahan tanpa menerima bantuan dana adalah karena perusahaan penyumbang buku sekaligus diminta membiayai ongkos pengiriman. Beberapa perusahaan ekspedisi, seperti RPX/FedEx, juga Asosiasi Logistik Indonesia, digandeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana dirasakan perlu karena urusan 1001buku tak melulu menghimpun, menyortir, dan mendistribusikan bantuan. Setidaknya saban bulan mereka mendatangi taman bacaan penerima bantuan. Untuk mengakali kesulitan dana, yang biasa dilakukan adalah nebeng kesempatan penggiat 1001buku yang dinas luar kota. "Yang dinas luar kota sekalian nyambangi taman bacaan di daerah," kata Rahmat. Cara komunikasi melalui milis dan situs juga dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan lainnya adalah keanggotaan 1001buku yang sifatnya sangat cair. Beberapa tahun lalu perkumpulan ini tidak terstruktur, tak punya ketua. Yang ada cuma penanggung jawab kegiatan. Anggotanya keluar-masuk dengan mudah. Lantaran itu, Rahmat mengaku kesulitan mendapatkan penggiat yang berkomitmen kuat pada kegiatan perkumpulan, juga bantuan dan kerja sama dari instansi pemerintah. Untung, banyak perusahaan swasta tak terlalu peduli dengan keadaan ini. Agar kesulitan tak berlanjut, tahun lalu perkumpulan ini mendirikan yayasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan membangun jejaring dengan pemerintah tak dialami Yayasan Yessy. Yessy bahkan kerap diundang pejabat pemerintah daerah untuk mendapatkan dan menyebar buku. Tahun lalu yayasan ini mendapat bantuan Rp 25 juta dari Departemen Pendidikan Nasional. Perusahaan swasta seperti Bank Niaga, misalnya, pernah memberikan sejuta buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, soal sumber daya manusia, setali tiga uang dengan 1001buku. "Sumber daya kami terbatas," kata Yessy, Sabtu dua pekan lalu, melalui telepon. Sumber daya yang terbatas ini sangat terasa pengaruhnya pada 2004. Yayasan Yessy, yang memiliki 13 taman bacaan di Jakarta dan Depok, tak mampu bertahan dengan mengandalkan tenaga pembimbing yang dibayar yayasan tiap bulan. "Beberapa pembimbing menikah dan keluar," ujar Wina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, yayasan juga kesulitan membayar pembimbing. Tapi ada berkah terselubung dalam kesulitan itu. Krisis sumber daya orang dan uang membuat penggiat yayasan berpikir menyerahkan taman-taman bacaan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawaran itu disambut baik. Dari 13 taman bacaan, empat diambil alih masyarakat. Taman Bacaan Jafan di Depok dan Taman Bacaan Dave, yang berubah nama menjadi Taman Bacaan Alif, di Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan, malah diambil alih perorangan. Taman Bacaan Jafan diambil alih keluarga Bambang dan sehari-hari dikelola Diani Sari Widura, putri keluarga itu. Sedangkan Alif dikelola Diana Syarifah, pegawai swasta yang mengaku mengambil alih taman bacaan itu karena terinspirasi oleh Yessy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diani dan Diana menambah koleksi taman bacaannya dengan merogoh kocek sendiri. "Biasanya beli buku di bazar diskon," ujar Diana. Diana juga harus membayar penjaga taman bacaan yang buka pada sore hari itu. Namun, kewajiban-kewajiban itu dianggap tak mengganggu keuangannya karena tak rutin membeli buku dan mendapat bantuan buku dari teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Diani menangani sendiri Taman Bacaan Jafan, yang menempati toko buku dan alat tulis milik keluarganya. Keluarganya melengkapi taman bacaan itu dengan mainan, pensil warna, serta krayon untuk menggambar dan mewarnai. Keluarganya kerap membeli pensil warna dan krayon. Tapi banyak tetangganya yang menyumbangkan buku, majalah. "Banyak juga yang menyumbangkan mainan layak pakai." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Koran Tempo Edisi 21 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-2813887963739537923?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/2813887963739537923/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=2813887963739537923' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/2813887963739537923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/2813887963739537923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2008/05/1001-buku-menyebar-buku-hingga-ke-papua.html' title='1001 BUKU, Menyebar Buku Hingga ke Papua'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-1075477312220722363</id><published>2008-04-27T17:16:00.000-07:00</published><updated>2008-04-27T17:17:56.356-07:00</updated><title type='text'>Taman Bacaan Kurang Optimal</title><content type='html'>Taman bacaan masyarakat yang ada selama ini masih kurang optimal dikembangkan. Belakangan, anggaran pengembangan taman bacaan masyarakat juga terpangkas seiring dengan penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2008.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, taman bacaan masyarakat berpotensi memberdayakan komunitas. Berawal dari upaya memperkenalkan bacaan ke masyarakat sekitarnya, taman bacaan dapat berkembang menjadi wadah aktivitas di komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diwartakan sebelumnya, penyediaan bantuan pengembangan perpustakaan dan minat baca di daerah yang semula dianggarkan sekitar Rp 41 miliar kini terpotong separuhnya. Dana tersebut untuk bantuan rintisan dan penguatan taman bacaan masyarakat di 33 provinsi dengan target awal sekitar 2.250 lembaga. Adapun anggaran pengadaan sebanyak 143 taman bacaan masyarakat layanan khusus bersifat mobile atau bergerak tidak jadi dilaksanakan lantaran anggarannya sebesar Rp 46 miliar terpangkas seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Buku Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peringatan World Book Day atau Hari Buku Dunia 2008 yang dibuka pada Rabu (23/4), sejumlah taman bacaan masyarakat ikut ambil bagian dalam memperkenalkan arti penting membaca dan kehadiran taman bacaan masyarakat. Perayaan Hari Buku Dunia berpusat di Museum Bank Mandiri, Kota, Jakarta, dan akan berlangsung pada 23-27 April 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiri taman bacaan masyarakat Arjasari yang berlokasi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Agus Munawar, mengatakan, kendala pendanaan menjadi persoalan umum bagi taman bacaan masyarakat. Pendiri taman bacaan umumnya membangun taman bacaan masyarakat dengan dana swadaya. ”Kami biasanya berburu ke tempat penjualan buku murah atau ke penerbit,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Agus, minat baca masyarakat sebetulnya tinggi. Hanya saja, tidak semua orang sanggup membeli buku yang saat ini harganya masih terbilang mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada diungkapkan pendiri taman bacaan Mutiara Ilmu, Kabupaten Bekasi, Soimah. Untuk mengelola taman bacaannya, dia mengeluarkan dana pribadi. ”Saya tidak menyesal mengeluarkan dana sendiri, yang penting taman bacaannya berjalan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edi Dimyati, salah satu pendiri taman bacaan Kuartet Cibubur, Jakarta Timur, mengatakan, taman bacaannya tidak sekadar menjadi tempat membaca. Setiap akhir pekan diselenggarakan kegiatan yang bersifat edukatif, seperti permainan, menggambar, menonton film edukatif, dan berkunjung ke museum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Kompas, 24 April 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-1075477312220722363?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/1075477312220722363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=1075477312220722363' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/1075477312220722363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/1075477312220722363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2008/04/taman-bacaan-kurang-optimal.html' title='Taman Bacaan Kurang Optimal'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-2130883228833166655</id><published>2008-04-20T17:59:00.000-07:00</published><updated>2008-04-20T18:03:38.644-07:00</updated><title type='text'>Dana Perpustakaan Dipangkas</title><content type='html'>Pemotongan anggaran Departemen Pendidikan Nasional sebesar 10 persen berdampak pada pemotongan anggaran untuk perpustakaan. Bahkan, terdapat program terkait peningkatan literasi yang dihapuskan tahun ini lantaran pemotongan anggaran tersebut.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diwartakan sebelumnya, pemerintah menyesuaikan kembali anggaran negara dengan memotong 10 persen anggaran di semua departemen, termasuk Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Pemotongan tersebut telah dipastikan seiring dengan ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2008, awal April lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyediaan bantuan pengembangan perpustakaan dan minat baca di daerah, yang semula dianggarkan sekitar Rp 41 miliar, kini terpotong separuhnya. Dana tersebut asalnya untuk bantuan rintisan dan penguatan taman bacaan masyarakat di 33 provinsi dengan target awal sekitar 2.250 lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun anggaran pengadaan sebanyak 143 taman bacaan masyarakat layanan khusus bersifat mobile atau bergerak tidak jadi dilaksanakan lantaran anggarannya sebesar Rp 46 miliar terpangkas seluruhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan perpustakaan dan sumber belajar untuk pendidikan dasar juga terpotong Rp 30 miliar. Padahal, berdasarkan data Depdiknas sampai akhir tahun 2007, jumlah perpustakaan sekolah masih sangat minim. Di Indonesia hanya 27,6 persen sekolah dasar yang memiliki perpustakaan. Sebarannya tidak merata. Ada daerah dengan 72,8 persen sekolah dasar telah memiliki perpustakaan seperti di Yogyakarta. Namun, ada juga yang baru 5 persen sekolah dasar dilengkapi perpustakaan, seperti di Maluku Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Program Forum Indonesia Membaca Dessy Sekar Astina, Minggu (20/4), mengatakan, perpustakaan dan pusat sumber belajar berperan besar membawa perubahan dalam masyarakat. Pengetahuan dan kreativitas dapat lahir dengan mengakses informasi di perpustakaan dan pusat sumber belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pusat sumber belajar menjadi tempat masyarakat mendapat informasi melalui bacaan dan media lain, berdiskusi, serta beraktivitas kelompok. Ketika masyarakat membaca secara fungsional, akan terbentuk cara memilah informasi dan membuat pilihan-pilihan dalam hidup secara lebih baik,” ujar Dessy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, pembangunan perpustakaan dan pusat sumber belajar masih dipandang sebagai pengeluaran dana belaka, bukan pemberi keuntungan yang dapat memberdayakan dan menyejahterakan masyarakat. Berinvestasi di dalam pembangunan sumber belajar hasilnya memang baru terlihat dalam jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi, di tengah kondisi perpustakaan sekolah yang masih memprihatinkan. ”Perpustakaan sekolah masih cenderung berisi buku pelajaran, bukan buku bacaan yang menyenangkan dan menarik minat anak untuk membaca. Bahkan, masih banyak sekolah di level pendidikan dasar tidak dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Depdiknas Ace Suryadi mengatakan, penyediaan bacaan dengan didirikannya taman bacaan masyarakat yang mudah dijangkau masyarakat sebenarnya diperlukan untuk menumbuhkan minat baca. ”Keinginan kami, taman bacaan masyarakat bukan sekadar menyediakan buku-buku bacaan, tetapi bagaimana bisa berkembang menjadi kios buku sehingga taman bacaan masyarakat menjadi produktif,” kata Ace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya pemangkasan anggaran tersebut, program pendukung untuk literasi atau keaksaraan ini dianggap belum prioritas. Penambahan jumlah taman bacaan masyarakat berkurang separuh dari yang direncanakan supaya program kunci seperti pemberantasan buta aksara bisa tetap berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang dibatalkan sama sekali itu rencana pengadaan 143 mobile TBM (taman bacaan masyarakat). Padahal, mobile TBM sangat berguna untuk melayani masyarakat di daerah terpencil dan berpenduduk jarang, atau mereka yang tinggal di daerah aliran sungai. Terpaksa pengadaannya menunggu sampai tahun depan,” ujar Ace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ace, keberadaan taman bacaan masyarakat, terutama di kantong-kantong buta aksara, berguna untuk membantu masyarakat yang baru melek huruf agar terus mau membaca. Apalagi jika taman bacaan tersebut menyediakan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, seperti keterampilan, perikanan, dan pertanian. Masyarakat mendapat nilai plus untuk bisa meningkatkan kehidupan mereka lebih baik lagi dari bekal pengetahuan yang didapat dari bacaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Kompas 21 April 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-2130883228833166655?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/2130883228833166655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=2130883228833166655' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/2130883228833166655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/2130883228833166655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2008/04/dana-perpustakaan-dipangkas.html' title='Dana Perpustakaan Dipangkas'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-3114629113672716913</id><published>2008-01-03T06:29:00.000-08:00</published><updated>2008-01-03T06:31:14.509-08:00</updated><title type='text'>Perpusnas Lestarikan Naskah Kuno dengan "E-library"</title><content type='html'>Sebanyak 10.000 naskah kuno yang disimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta akan disalin ke dalam format digital. Cara ini dapat mencegah kerusakan naskah kuno yang sebagian besar rapuh.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Perpustakaan Nasional RI Dady P Rachmananta mengatakan, program perpustakaan digital atau e-library ini sudah dirancang sejak 2006. "Program ini permintaan dari pemerintah untuk merawat dan koleksi langka di perpustakaan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2008, menurut Dady, pemerintah mengalokasikan dana Rp 126 miliar untuk dua program utama, yaitu penyalinan naskah kuno dan bantuan perpustakaan daerah. "Perawatan naskah kuno amat penting karena kebanyakan ditulis di atas lembaran kayu atau daun lontar dikhawatirkan cepat rusak jika terlalu sering dibaca," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Dady, saat ini Perpustakaan Nasional sudah menyalin sebanyak 1.000 judul naskah kuno. Ia memperkirakan penyalinan untuk semua judul naskah kuno akan selesai tahun 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan adanya naskah kuno dalam format digital, pembaca dapat mengakses melalui internet atau komputer yang tersedia di Perpustakaan Nasional tanpa harus memegang naskah aslinya," kata Dady. Seluruh teks yang ada dalam naskah kuno dapat pula dicari dan dibaca melalui situs digilib.pnri.go.id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyalinan naskah atau buku ke dalam format digital baru dapat dilakukan untuk naskah kuno, sedangkan penyalinan buku-buku terbitan terbaru belum dapat dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dady mengatakan, penyalinan buku-buku terbitan baru terbentur masalah hak cipta yang dimiliki penerbit, sedangkan naskah kuno sudah menjadi milik negara. "Penerbit belum mau jika buku-buku yang diterbitkan diubah dalam bentuk digital karena semua orang dapat mengakses dengan gratis," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi hal ini, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Supriyadi mengatakan, buku terbaru hanya akan disalin halaman depan, daftar isi, dan pendahuluannya. Hal ini untuk mempermudah pembaca untuk mencari buku yang dibutuhkan tanpa harus pergi ke perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk ke depannya kami berharap dapat mengubah semua koleksi ke dalam bentuk digital karena masyarakat di kota besar seperti Jakarta sudah sangat membutuhkan perpustakaan digital," ujar Supriyadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Digunting dari Harian Kompas Edisi Kamis, 03 Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-3114629113672716913?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/3114629113672716913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=3114629113672716913' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/3114629113672716913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/3114629113672716913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2008/01/perpusnas-lestarikan-naskah-kuno-dengan.html' title='Perpusnas Lestarikan Naskah Kuno dengan &quot;E-library&quot;'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-6017046940324666998</id><published>2007-12-01T15:34:00.000-08:00</published><updated>2007-12-01T15:35:31.483-08:00</updated><title type='text'>Emang, Sekolah Anda Punya Perpustakaan?</title><content type='html'>Sepanjang pengamatan saya, pembicaraan mengenai buku, siswa, dan perpustakaan selalu bernuansa gelap. Sama persis dengan headline surat kabar harian di negeri ini. Meskipun "kegelapan" minat baca itu belum saya pergoki dalam bentuk statistik yang kesahihannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, laporan Taufiq Ismail, penyair Indonesia Angkatan ’66, yang konon telah mewawancarai 13 orang mantan siswa SMA di 13 negara itu, cukup menjadi salah satu buktinya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya? Di Jerman, pada pendidikan tingkat SMA, para siswa telah membaca sekurang-kurangnya 15 judul buku sastra, di New York membaca 32 judul, di Rusia 12 judul, di Singapura dan Malaysia masing-masing 6 judul. Sementara di Indonesia 0 judul!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, "penelitian" Taufiq Ismail tersebut hanya meliputi buku sastra, namun pernyataan tersebut telah masyhur sebagai dalil umum yang dianggap valid. Laporan itu pun membuat kita terus semakin miris. Buku tidak lagi menjadi sumber sekunder informasi. Perlahan-lahan, keberaksaraan kembali ke arah kelisanan, "kelisanan elektronik dan digital" di dalam tabung televisi dan monitor komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah generasi kita jauh lebih bodoh dari generasi Soekarno? Benarkah (siswa) kita adalah anggota keluarga besar pemalas dalam urusan membaca? Ini harus dipertanyakan ulang. Sebab, data keluhan rendahnya intensitas pengunjung perpustakaan dan minat baca juga berada pada wilayah abu-abu. Nah, bukankah lebih asyik jika pertanyaannya kita ganti menjadi: Emang, Sekolah Anda Punya Perpustakaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, semua sekolah memang punya perpustakaan. Namun, jika pada kata "perpustakaan" dibubuhi catatan kaki yang berisi: perpustakaan tentu saja bukan bangunan di lingkungan sekolah yang berisi buku-buku inpres sisa zaman baheula, tanpa buku karya sastra dan buku-buku karya ilmiah (kecuali lapuk dan berdebu), akan lain ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kondisi perpustakaan kita yang dengan mudah dapat diidentifikasi sebagai bangunan/ruangan yang paling jelek di antara ruang kelas yang lain. Dalam istilah Abdullah Mamber, perpustakaan cenderung berwujud gedung yang paling angker di lingkungan sekolah. Karena itu, siswa yang "nekat" datang ke sana akan mendapat sebutan "hantu perpus". Perpustakaan sekolah menjadi bangunan yang "maujud namun perlina" (adanya bagai tiada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengeluhkan rendahnya minat baca siswa, sebaiknya kita lebih dulu mempertanyakan kesiapan dan sikap pihak sekolah dalam memfasilitasi perpustakaan. Saya punya pengalaman. Begini ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, perpustakaan di sekolah tempat saya mengajar lebih tepat jika disebut gudang. Detailnya barangkali persis seperti "catatan kaki" yang saya tulis di atas, atau sebagaimana digambarkan secara umum oleh Abdullah Mamber tersebut. Namun, setelah dipugar, interior dan sedikit pada bagian eksteriornya dipermak, perpustakaan pun jadi "norak" dan nyolong fokus. Catnya tidak putih sebagaimana lazimnya ruang kelas. Perpustakan yang semula merupakan bangunan paling menakutkan di lingkungan sekolah, kini menjadi satu-satunya bangungan yang tampak paling megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, jurus ini ampuh. Hal ini terbukti karena setelah itu perpustakaan berubah menjadi "ruang kelas bersama" bagi semua tingkatan. Ia menjadi tempat yang paling sering dikunjungi siswa. Mau datang saja sudah cukup, niat membaca biarlah belakangan. Analoginya: yang penting ngapel dulu, soal mengungkapkan rasa cinta itu biarlah diatur kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula, ketika perpustakaan dibuka ulang pascapemugaran, jumlah pengunjung mencapai 1.500-an siswa dalam sepekan. Angka ini tidak fantastis. Namun, pihak sekolah cukup berbangga dengan angka tersebut jika mengacu pada jumlah total siswa yang kurang dari 400 orang. Lama-lama, karena dianggap monoton dan "tradisional" (karena tidak lebih dari sekadar tempat membaca/meminjam buku), dan ini mungkin juga akan dialami oleh hampir semua perpustakaan sekolah, kian hari jumlah pengunjung terus menyusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengobati kebosanan gaya "membaca biasa" itu, yaitu membaca secara tradisional untuk diri sendiri, diadakanlah kegiatan "simakan buku", terutama karya sastra (cerpen). Seorang siswa membaca, sementara yang lain mendengarkan. Setelah itu, bacaan diapresiasi dan didiskusikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan lainnya adalah diskusi buku secara rutin, pemutaran film dokumenter, serta pembentukan sekolah menulis. Sebagai medianya, dibuatlah mading yang sebagian besar bahan-bahannya berupa tripleks dan papan bekas. Di mading itu, siapa pun boleh menulis dan langsung menempelnya sendiri secara suka-suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cara seperti itu, alhamdulillah, perpustakaan kembali bergairah. Perpustakaan tidak lagi menjadi seperti kios persewaan komik. Perpustakaan pun berubah menjadi laboratorium dan pusat semua kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan membaca-menulis serta aktivitas keilmuan yang lain. Kami bahagia karena ternyata penelitian Taufiq Ismail maupun pernyataan-pernyataan miring perihal rendahnya minat baca siswa tidak berlaku di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekolah diibaratkan sebagai tubuh, maka perpustakaanlah jantungnya. Karena itu, perpustakaan wajib ada pada tiap-tiap sekolah. Sekadar ada? Tidak! Setiap orang punya jantung, namun jantung yang lemah akan membuat aktivitas lainnya menjadi tidak bergairah. Jadi, jika perpustakaan menjadi jantung sekolah, maka ia harus sehat. Aktivitas pengunjung, intensitas membaca, juga ketersediaan bahan pustaka, semuanya harus saling mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perpustakaanlah kita meyakini bahwa "membaca dan menulis" dalam proses pemberdayaan pengetahuan manusia sama seperti halnya "makan dan minum" dalam proses kelangsungan hidupnya. Kedua hal itu berkelit-kelindan. Keduanya saling bertaut dan tidak dapat saling dipisahkan. "Membaca dan menulis" sejatinya merupakan "+1" (plus satu) yang tidak dicantumkan dari sembilan bahan pokok kebutuhan dasar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak pembelajaran di sekolah terletak pada sumber daya manusianya. Sementara otak intelektual terdapat pada minat bacanya. Buku-buku di perpustakaan itu adalah "guru-guru tanpa gaji" yang memiliki peran sangat penting dalam proses berlangsungnya transfer ilmu pengetahuan. Pengalaman cenderung menunjukkan jalan setelah kita tersesat, sementara buku memberi tahu arah sebelum kita melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu, sebelum pertanyaan "Seberapa tinggikah minat baca di perpustakaan sekolah Anda?" dilontarkan, selayaknya kita mengajukan pertanyaan "Adakah perpustakaan di sekolah Anda?" Jika belum, maka simaklah pesan Prof Dr Darji Darmodiharjo ini. Mantan Dirjen Dikdasmen, Depdiknas, itu berpesan: "Perpustakaan sekolah itu harus ada pada tiap-tiap lembaga pendidikan. Bila tidak ada ruang perpustakaan, pakailah salah satu ruang kelas. Jika ruang kelas tidak ada, pakailah ruang pojok dengan rak bukunya. Jika tidak ada ruang pojok? Tutup saja sekolahnya!" (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;a href="http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&amp;id=315217"&gt;M. Faizi&lt;/a&gt;, guru di SMA 3 dan Mts 3 Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura&lt;br /&gt;** Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 2 Desember 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-6017046940324666998?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/6017046940324666998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=6017046940324666998' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/6017046940324666998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/6017046940324666998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/12/emang-sekolah-anda-punya-perpustakaan.html' title='Emang, Sekolah Anda Punya Perpustakaan?'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-8958092875445409480</id><published>2007-11-18T14:31:00.000-08:00</published><updated>2007-11-18T14:34:08.002-08:00</updated><title type='text'>Perpustakaan Sekolah Telantar</title><content type='html'>Perpustakaan sekolah dasar di sejumlah daerah, termasuk di sekitar Jakarta, terkesan ditelantarkan dan belum menjadi prioritas. Koleksi buku-buku sudah usang, tempat penyimpanan tidak representatif, dan nyaris tidak ada buku-buku baru.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pantauan ke sejumlah sekolah dasar, Jumat dan Sabtu (16-17/11), sebagian besar koleksi buku perpustakaan merupakan buku-buku lama terbitan sebelum tahun 2004. Sangat minim buku-buku cerita, apalagi buku yang menyangkut teknologi, yang mudah dimengerti anak- anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penataan buku-buku itu pun kurang layak dan terkesan asal- asalan, bahkan banyak perpustakaan yang tempatnya sangat sempit serta kurang menarik dikunjungi. Kalaupun ada murid yang meminjam buku, pencatatannya pun tidak rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejumlah kepala sekolah, sejak ditetapkannya kebijakan bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan operasional pembangunan (BOP), sekolah tidak lagi mendapatkan sumbangan buku, baik dari pemerintah pusat maupun dari Dinas Pendidikan (Diknas) setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan BOP Rp 50.000 per anak dan BOS sebesar Rp 21.166 per anak, sekolah kesulitan jika harus menambah buku-buku baru untuk koleksi perpustakaan. Uang tersebut kebanyakan dipakai untuk pembelian alat bantu belajar-mengajar, seperti buku pelajaran wajib dan ekstrakurikuler," kata seorang guru di Pulogebang, Cakung, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya biaya BOS dan BOP, sekolah diharapkan pemerintah bisa menerapkan manajemen berbasis sekolah. Sekolah harus bisa mengatur sendiri dana BOS dan BOP tanpa meminta lagi dari pihak luar sekolah, seperti orangtua dan organisasi lain. Bantuan bahan bacaan anak tidak datang lagi setelah terakhir kali diberikan tahun 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komite Sekolah SDN Pulogebang Riniwati berharap, walaupun sudah tidak dipungut biaya, pemerintah tetap memerhatikan fasilitas sekolah, seperti perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Sekolah SDN I Jakasampurna, Bekasi Barat, Edah Syubaedah mengatakan, sekolahnya sudah diperbarui bangunannya menjadi dua tingkat dan mendapat dana BOS sebesar Rp 21.500 per anak, namun masih kesulitan untuk membangun perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara terpisah, Mudjito AK, Direktur Taman Kanak-kanak dan SD Departemen Pendidikan Nasional menjelaskan, dalam dua tahun terakhir penyediaan fasilitas sekolah, termasuk perpustakaan, mulai menjadi prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, jumlah perpustakaan SD diperkirakan mencapai 70.000 unit dari jumlah SD yang banyaknya 149.454 di seluruh Tanah Air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Digunting dari Harian Kompas Edisi 19 November 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-8958092875445409480?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/8958092875445409480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=8958092875445409480' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/8958092875445409480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/8958092875445409480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/11/perpustakaan-sekolah-telantar.html' title='Perpustakaan Sekolah Telantar'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-7518577066293641457</id><published>2007-10-24T16:30:00.000-07:00</published><updated>2007-10-24T16:32:09.501-07:00</updated><title type='text'>Pustakawan Bukan Sekadar Penjaga Buku</title><content type='html'>Perpustakaan telah berkembang konsepnya tak lagi sekadar merupakan rak dengan jajaran buku, melainkan sebagai resources center atau sumber daya informasi. Karena itu, tenaga pustakawan juga harus semakin kompeten, bukan sekadar penjaga buku.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fuad Gani, Ketua Departemen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), mengatakan, Senin (22/10) di Jakarta, seiring dengan disahkannya undang-undang tentang perpustakaan baru-baru ini yang bertujuan untuk mengembangkan perpustakaan, pustakawan semakin dibutuhkan, terutama untuk perpustakaan publik dan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan kemampuan masyarakat maupun pustakawan dalam mengembangkan perpustakaan sebagai sumber daya informasi, departemen ini memiliki center for information studies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga ini merupakan bagian dari unit ventura untuk jasa pelayanan masyarakat. Pihak UI sering bekerja sama dengan berbagai lembaga lain untuk memberikan pelayanan pelatihan perpustakaan kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan dewasa ini, para pustakawan pun dibutuhkan keluarga-keluarga. Tumbuhnya minat pribadi atau keluarga menghadirkan perpustakaan di rumah membuka peluang bagi para pustakawan ini untuk melayani dan mengedukasi masyarakat guna memanfaatkan perpustakaan yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka yang punya perpustakaan di rumah terkadang tidak mengerti bagaimana mengelola perpustakaan yang bisa memudahkan mereka untuk memanfaatkan koleksi yang ada. Pemilik ada yang merasa butuh bantuan ahli sehingga buku-buku bisa mudah dicari saat dibutuhkan," ujar Edi Dimyati, pustakawan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta yang sering diminta mengelola perpustakaan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunawan, pustakawan lainnya, mengatakan, pengelolaan perpustakaan di rumah biasanya dilakukan dengan sederhana. Koleksi buku yang ada dikategorikan sesuai subyeknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Kompas Edisi Kamis, 25 Oktober 2007 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-7518577066293641457?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/7518577066293641457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=7518577066293641457' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/7518577066293641457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/7518577066293641457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/10/pustakawan-bukan-sekadar-penjaga-buku.html' title='Pustakawan Bukan Sekadar Penjaga Buku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-8459194477508186603</id><published>2007-10-16T07:35:00.001-07:00</published><updated>2007-10-16T07:38:19.648-07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan Keluarga</title><content type='html'>Minat masyarakat untuk menghadirkan perpustakaan di rumah atau sering juga disebut perpustakaan keluarga mulai tumbuh. Kehadiran perpustakaan di rumah ini diharapkan mampu mendekatkan anggota keluarga, terutama anak-anak, dengan kegiatan membaca dan memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wien Muldian, Koordinator Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional, Senin (15/10) di Jakarta, mengatakan, tumbuhnya budaya membaca memang idealnya lahir dari keluarga. Lingkungan untuk membuat masyarakat gemar membaca itu perlu diciptakan dengan berbagai cara dan kreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk kondisi di Indonesia, saat di keluarga mulai ada kesadaran untuk membuat perpustakaan pribadi atau keluarga, perlu juga didukung dengan tumbuhnya perpustakaan yang lahir dari komunitas. Sebenarnya minat baca masyarakat kita ada, tetapi akses ke sumber bacaan itu yang terbatas," ujar Wien yang juga penggagas Forum Indonesia Membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wien, perpustakaan keluarga itu bisa dibuat sesuai kondisi dan kebutuhan setiap keluarga. Ada yang menyediakan sebuah ruangan khusus yang didesain sedemikian rupa menjadi sebuah perpustakaan keluarga yang nyaman. Ada juga yang hanya menyediakan rak-rak buku supaya penyimpanan buku rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam pemilihan buku, terutama untuk anak-anak, ya seharusnya ada tingkatan buku bacaan sesuai umur anak. Mulai yang ringan dulu dan terus meningkat sampai ke apa yang disukai anak. Ini yang masih lemah dalam pemilihan buku di keluarga," kata Wien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Minat spesifik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dian Safitri, relawan sekaligus mantan Ketua Yayasan 1001 Buku, mengatakan, perpustakaan keluarga paling tepat untuk memenuhi kebutuhan keluarga akan bacaan karena disesuaikan dengan minat spesifik anggota keluarga. Perpustakaan keluarga bisa menjadi alternatif bagi keluarga untuk menghabiskan waktu di luar menonton televisi yang belakangan mendominasi ruang- ruang keluarga. "Saya tidak ingin anak saya hanya tertarik menonton televisi, jadi saya berusaha membuat perpustakaan keluarga sejak dua tahun lalu," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Dian mengumpulkan buku-buku yang dibutuhkan keluarga. Untuk anaknya yang baru berusia dua tahun, disediakan buku-buku khusus sebagai pengenalan, seperti buku dari kain dan buku untuk dibacakan ke anak. Dian juga membuka berbagai situs di internet mengenai cara pengelolaan perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sebuah situs mengenai perpustakaan di sekolah, dia mendapatkan cara mengelola perpustakaan di kelas dan menirunya. Buku-buku tidak dideretkan di dalam lemari, tetapi dikelompokkan dan dimasukkan ke dalam kotak-kotak yang sudah diberi label sesuai dengan tema buku. "Itu memudahkan bagi anak-anak. Kotak-kotak itu kemudian disusun dalam lemari," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para pencinta buku, membuat perpustakaan keluarga mulai menjadi sebuah kebutuhan dan telah menjadi tren. Dengan perpustakaan keluarga, minat membaca dapat makin ditumbuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Kompas Edisi Selasa, 16 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-8459194477508186603?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/8459194477508186603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=8459194477508186603' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/8459194477508186603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/8459194477508186603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/10/perpustakaan-keluarga.html' title='Perpustakaan Keluarga'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-8894900112570010373</id><published>2007-09-30T07:35:00.000-07:00</published><updated>2007-09-30T07:51:01.089-07:00</updated><title type='text'>Muhidin, Geertz, dan Kiai Yazid</title><content type='html'>Sudah dua kali Muhidin M. Dahlan membuat catatan tentang Kediri di rubrik ini. Yakni, tentang buruknya manajemen perpustakaan daerah yang dikelola pemerintah. &lt;a href="http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/kabar-buruk-dari-perpustakaan-kediri.html"&gt;Pertama&lt;/a&gt;, perpustakaan di Kota Kediri yang untuk masuk saja anak kecil dibuat ketakutan --karena ada dua patung hitam besar di lantai dasarnya yang gelap (JP, 9/7/2006). &lt;a href="http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/tak-ada-clifford-geertz-di-perpus-pare.html"&gt;Kedua&lt;/a&gt;, perpustakaan Kabupaten Kediri di Pare yang petugasnya pun tak kenal siapa itu Clifford Geertz, antropolog yang berjasa menginternasionalisasikan Pare dengan sebutan Mojokuto (JP, 16/9/2007).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhidin memang pantas resah. Sebab, jauh-jauh dari Jakarta, pencariannya selalu menemui jalan buntu. Catatan-catatan tentang sejarah Kerajaan Kediri, selembar pun tak ditemukannya di perpustakaan yang dulu daerahnya pernah menjadi pusat kerajaan pimpinan Sri Aji Jayabaya itu. Alih-alih dokumentasi sejarah yang sudah berumur ribuan tahun, petugasnya justru balik bertanya ketika Muhidin memancingnya dengan menanyakan buku karya Goenawan Mohamad. "Siapa dia? Kayaknya pernah dengar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi yang sama didapat ketika kerani buku itu bertanya tentang Geertz kepada petugas perpustakaan di Pare hingga ke pemilik warung. Tak satu pun yang mengenal &lt;i&gt;londo&lt;/i&gt; asal Amerika yang pernah bertahun-tahun tinggal di Kota Pare itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhidin memang tidak salah. Dia hanya lupa bahwa semestinya tak perlu berharap banyak kepada pemerintah atau kepada lembaga-lembaga yang dikelola penguasa untuk urusan "sepele" seperti itu. Maka, pengalaman mendapat jawaban pahit di perpustakaan kota, masih saja diulanginya dengan mendatangi perpustakaan di kabupaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap kepedulian pemerintah daerah terhadap dunia perbukuan memang masih menjadi mimpi yang mahal. Kalaupun ada, masih bisa dihitung dengan jari. Salah satunya Kota Blitar dengan Perpustakaan Bung Karno-nya. Maklum, bagi penguasa di daerah, modal kapital masih jauh lebih menarik daripada modal sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika kewenangan daerah mendapat porsi lebih besar dalam otonomi, yang banyak dibangun adalah mal dan pusat-pusat perbelanjaan lain. Bahkan tak peduli harus menggusur ruang publik maupun lahan hijau kota. Tak peduli juga apakah mal itu nanti ada pembelinya atau tidak karena kantong rakyat tak mampu menjangkau harga stan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lebih senang mengabdi kepada kepentingan kapital daripada melayani kebutuhan rakyat. Bukan sekadar kebutuhan ekonomi, tapi juga kebutuhan pendidikan. Kebutuhan untuk menjadi yang tercerahkan. Dalam situasi seperti ini, maka jangan terlalu berharap akan ada perpustakaan daerah --walaupun kecil-- tapi terasa nyaman di dalamnya dengan koleksi buku yang lengkap. Perpustakaan yang buka hingga malam dan hari-hari libur untuk melayani masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan seperti itulah yang sudah lama tak terlalu dihiraukan oleh komunitas seperti Muhidin di Kediri. Mereka lebih senang bergelut dengan aktivitasnya sendiri. Menjelajah dan berburu buku-buku yang diminati. Menyelam dan mereguk saripati di dalamnya. Kemudian, mendiskusikannya untuk sekadar me-refresh atau mengembangkannya dalam sebuah penelitian atau menjadikan buku baru. Semua dilakukan tanpa ketergantungan kepada pemerintah, tanpa mengandalkan perpustakaan daerah yang memang belum bisa diandalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas semacam inilah yang mulai marak di Kediri, meskipun gaungnya tak segegap gempita seperti di Jogja atau Jakarta. Maklum, kota ini memang lebih dikenal karena "tahu Kediri" dan Gudang Garam-nya, belakangan juga berkat tim bolanya (Persik) yang jawara Liga Indonesia. Kendati demikian, Tri Prasetyo, pekerja buku yang kini intens menggelar pameran buku, berani menyebut bahwa iklim perbukuan di Kediri lebih hidup dibandingkan Surabaya. Nomor dua di Jawa Timur setelah Malang. Tetapi, diakui juga, untuk pasar, Kediri masih kalah pada Surabaya dan Malang. Buku-buku yang dicari pun masih sebatas buku-buku praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklim perbukuan di Kediri juga terlihat dari munculnya sejumlah penulis dan penerbit lokal. Misalnya, M. Darwis, konsultan psikologi, yang mencoba mengekor sukses penulis Iip Wijayanto dengan bukunya yang menguak sisi lain pergaulan remaja di sekolah. Dalam setahun, bukunya sudah cetak ulang kedua. Dan, kini membuat penerbit besar tertarik untuk menerbitkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Prof Fauzan Saleh dari STAIN Kediri yang karya disertasinya di Mc Gill University Kanada bahkan sudah diterbitkan di Belanda (Leiden: E.J. Brill, 2001) kemudian diterjemahkan dan dicetak ulang di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, di sektor penerbitan, muncul drg Sutjahjo Gani yang berusaha membangkitkan kembali penerbitan moyangnya, Tan Khoen Swie, di Jl Dhoho, yang pernah moncer pada abad XIX dan awal abad XX. Ada pula Cak Suko Susilo dengan Jenggala-nya yang menerbitkan buku-buku karya guru besar dan doktor perguruan tinggi negeri di Surabaya. Semua itu belum termasuk para penulis dan penerbit ’indie label’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mereka adalah bagian dari komunitas perbukuan yang hidup di kota kecil, yang gaungnya masih kalah dengan tahu, rokok, dan bola. Tapi, mereka tak mau bergantung atau terlalu berharap kepada pemerintah. Tak mau pula menggantang asa pada penerbit-penerbit besar yang sudah mapan. Namun, mereka cukup intens dengan aktivitasnya, walau mungkin, bagi orang lain, terlihat seperti ngobrol tak tentu arah. Salah satunya ngobrol tentang Geertz yang 30 Oktober nanti diperingati haulnya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, seandainya saja Muhidin tidak mengulangi kesalahannya setahun lalu dengan kembali mendatangi perpustakaan daerah di Pare, mungkin dia tak perlu tersesat. Apalagi sampai harus bertanya kepada pemilik warung segala. Sebab, hanya berjarak sekitar satu kilometer dari perpustakaan itu, dia seharusnya bisa meresapi kehadiran Geertz di sana saat menyusun &lt;i&gt;Religion of Java&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jalan Anyelir, satu kompleks dengan Masjid Darul Falah, Geertz banyak berdiskusi dengan KH Ahmad Yazid, hampir setiap hari selama Geertz tinggal di Pare pada 1950-an. Kiai Yazid pula yang sering menunjukkan dan menemani Geertz dan istrinya, Hildred, mewawancarai masyarakat. Maklum, ulama modernis itu menguasai berbagai bahasa asing: Inggris, Arab, Prancis, Belanda, Jerman, Rusia, hingga bahasa Urdu dan Ibrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pertengahan 1980-an, Geertz sempat datang lagi ke rumah Kiai Yazid untuk berdiskusi. Demikian pula pada pertengahan 1990-an. Namun, saat itu, sang kiai sudah tiada. Geertz hanya bertemu Kalend, murid Kiai Yazid, di "kampung bahasa Inggris" tersebut. Kata Nurhasan Yazid, putra Kiai Yazid, antropolog Harvard University itu juga sempat menikmati komedi putar di pusat kota Kecamatan Pare alias Mojokuto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan Geertz dengan Kiai Yazid itulah yang sempat memunculkan tudingan dari Maulidin bahwa Religion of Java bias modernis. Terutama dalam kategorisasi santri, abangan, dan priyayi yang dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, seandainya Muhidin tidak mengulangi kesalahannya, mungkin dia sudah bisa mewawancarai dinding-dinding tembok rumah Kiai Yazid yang menjadi saksi intensitas dialog Geertz dengan kiai poliglot itu. Dinding-dinding itu masih berdiri kokoh walaupun penghuninya sekarang adalah para santri di kampung bahasa Inggris tersebut. Muhidin juga bisa mencecap buku-buku koleksi sang kiai, meskipun kondisi rumah yang kini dijadikan perpustakaan umum itu tak lebih baik daripada perpustakaan daerah. Jadi, masihkah berharap kepada pemerintah dan perpustakaan daerah? (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;b&gt;Tauhid Wijaya&lt;/b&gt;, Pemimpin Redaksi Radar Kediri, penggiat Forum Diskusi Malem Selosoan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&gt; Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi Minggu, 30 September 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-8894900112570010373?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/8894900112570010373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=8894900112570010373' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/8894900112570010373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/8894900112570010373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/muhidin-geertz-dan-kiai-yazid.html' title='Muhidin, Geertz, dan Kiai Yazid'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-1973703496249412470</id><published>2007-09-17T02:27:00.000-07:00</published><updated>2007-09-17T02:40:29.133-07:00</updated><title type='text'>Koleksi Perpustakaan Pribadi Bung Hatta</title><content type='html'>Bung Hatta bukan saja masyhur karena perannya sebagai Proklamator dan salah satu pendiri bangsa, tetapi juga sebagai pencinta dan pembaca buku. Kecintaan kepada buku diwujudkannya dalam koleksi buku-buku pribadi yang jumlahnya mencapai lebih dari 10.000 judul dalam bahasa Jerman, Belanda, Perancis, selain Inggris dan tentunya, Indonesia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan buku tersebut tersusun berjajar di dalam rak-rak tinggi yang hampir mencapai langit-langit di dinding lantai satu rumah pribadi Bung Hatta di Jalan Diponegoro 57, Jakarta Pusat. Ratusan lainnya memenuhi beberapa lemari kaca di ruang kerja Bung Hatta di lantai dasar rumah. Beberapa buku tampak ditutupi debu dan ada pula yang lembaran-lembarannya terkikis ngengat kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tertulis di dalam buku memoarnya yang diterbitkan ulang tahun 2002, Bung Hatta telah mulai mengoleksi buku sejak ia masuk sekolah dagang menengah Prins Hendrik School (PHS) di Betawi tahun 1919. Ketika itu ia diajak pamannya, Mak Etek Ayub, singgah di sebuah toko buku antiquariat di daerah Harmoni. Mak Etek Ayub menunjukkan kepada Hatta beberapa buku yang dianggapnya penting untuk dibaca. Buku-buku tersebut adalah &lt;i&gt;Staathuishoudkunde&lt;/i&gt; (Ekonomi Negara) dua jilid karya NG Pierson, &lt;i&gt;De Socialisten&lt;/i&gt; (Kaum Sosialis) enam jilid yang ditulis HP Quack, serta karya Bellamy berjudul &lt;i&gt;Het Jaar 2000&lt;/i&gt; (Tahun 2000). Menurut Hatta, "Inilah buku-buku yang bermula kumiliki yang menjadi dasar perpustakaanku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memperoleh buku- buku itu, Hatta memilih menekuni buku-bukunya ketimbang berjalan-jalan melihat kota Betawi. Bulan-bulan awal bersekolah di Betawi, ia telah tiga kali membaca buku Bellamy. Sementara itu, De Socialisten jilid pertama, yang menguraikan sejarah sosialisme, telah selesai dilahapnya saat tahun pertama sekolah di PHS berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegandrungan kepada buku diperlihatkannya dengan membawa pulang 16 peti berisi buku- buku dan hanya satu koper pakaian saat tiba di Pelabuhan Tanjung Priok setelah 11 tahun tinggal di Belanda. Begitu banyak jumlah buku yang dibawa pulang membuat Hatta harus menghabiskan waktu selama tiga hari hanya untuk menyusun buku-buku itu di tempat tinggal barunya di Batavia pada tahun 1932.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerepotan yang sama juga dialaminya ketika ia dibuang ke Boven Digul pada 1935. Untuk mengepak buku-bukunya, Hatta juga memerlukan waktu tiga hari dan saat tiba di Digul, ia harus menyewa tenaga beberapa penduduk asli guna mengangkut ke-16 petinya itu dari Tanah Merah ke rumah pembuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ragam tema&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema-tema buku di perpustakaan pribadi Hatta mencakup banyak bidang, mulai dari filsafat, ideologi, politik, ekonomi, biografi, arsitektur, sastra, pariwisata, berbagai majalah dan jurnal, serta ensiklopedia. Menurut putri bungsunya, Halida Hatta, Bung Hatta membaca dan mempelajari hampir semua aliran ataupun pandangan, mulai dari kapitalisme, sosialisme, komunisme, maupun Islam. "Itu menjadi kekuatan Bung Hatta untuk mengetahui seluk-beluk apakah sebuah aliran atau ideologi cocok untuk diterapkan di Indonesia atau tidak, dan seberapa jauh eksesnya bagi bangsa," tutur Halida sambil menunjuk sebuah rak yang dipenuhi buku komunisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di deretan rak tersebut berjajar 43 buku dengan sampul depan bergambar wajah Marx- Engels-Lenin-Stalin. Di salah satu buku berbahasa Jerman tersebut bagian depannya tercetak tulisan Bucherei Des Marxismus- Leninismus Band 43 (Buku-buku Marxismus-Leninismus Jilid 43) dengan judul &lt;i&gt;J.W. Stalin, Uber Den Kampf Um Den Frieden, Eine Sammlung ausgewählter Aufsätze und Reden Besorgt von Marx-Engels- Lenin-Stalin-Institut pada ZK der SED&lt;/i&gt; (J.W. Stalin, Tentang Perang Merebut Perdamaian, Kumpulan Esai- esai Terpilih dan Pidato yang disusun oleh Institut Marx- Engels-Lenin-Stalin pada ZK SED). Seri buku Marxis-Leninis itu terbit di Berlin tahun 1954.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di deretan bawahnya berjajar buku seri tentang komunisme juga, tetapi pada bagian depannya tidak tercetak gambar wajah tokoh-tokoh komunis, hanya diselubungi sampul warna merah dengan jilid tidak berurutan dari satu hingga yang terakhir jilid 52. Salah satu buku itu berjudul &lt;i&gt;Lenin-Stalin, Zu Fragen Der Landwirtschaft, Eine Sammlung ausgewählter Aufsätze und Reden, Bucherei Des Marxismus-Leninismus Band 47, Dietz Verlag Berlin 1955&lt;/i&gt; (Lenin-Stalin, Mengenai Masalah-masalah Ekonomi Pertanian, Kumpulan Esai dan Pidato Pilihan, Perbukuan Marxismus-Leninismus Jilid 47, Penerbit Dietz, Berlin 1955). Di lembaran-lembaran awal buku ini masih tampak tarikan garis dengan pensil di bawah beberapa kalimat yang barangkali dianggap penting oleh Hatta saat membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak ke atas segera terbaca kumpulan surat Marx dan Engels yang dihimpun ke dalam buku setebal 623 halaman berjudul &lt;i&gt;Marx-Engels Selected Correspondence, Foreign Language Publishing House, Moscow&lt;/i&gt; dan buku lain bergambar wajah Trotsky, salah seorang intelektual Marxist dari Uni Soviet sekaligus pendiri dan pemimpin Tentara Merah, dengan judul &lt;i&gt;The First Five Years of The Communist International by Leon Trotsky&lt;/i&gt;, In Two Volumes, dari penerbit Pioneer di New York dengan tahun terbit 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan-persoalan ekonomi diketahui menjadi perhatian Hatta sejak muda. Oleh karena itu, koleksi buku-buku ekonominya juga tidak sedikit, mulai dari aliran ekonomi liberal hingga ekonomi sosialis. Beberapa di antaranya adalah &lt;i&gt;The Principles of Political Economy and Taxation&lt;/i&gt; karya David Ricardo, terbitan JM Dent &amp; Sons, London tahun 1926, atau &lt;i&gt;The Capitalist Manifesto&lt;/i&gt;, oleh Louis O Kelso &amp; Mortimer J Adler, terbitan Random House, New York, tahun 1958. Buku ini memaparkan tentang distribusi kekayaan melalui cara-cara kapitalistik untuk mencapai revolusi demokratis. Belum lagi koleksi jurnal berbahasa Belanda, &lt;i&gt;De Economist&lt;/i&gt;, sejak tahun 1853 hingga 1968. Selain itu, Hatta juga memiliki buku karya seorang tokoh Partai Komunis Indonesia, Semaun, tentang ekonomi yang berjudul &lt;i&gt;Tenaga Manusia: Postulat Teori Ekonomi Terpimpin&lt;/i&gt;, dikeluarkan Penerbit Universitas tahun 1961.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara buku-buku tentang ekonomi, terselip sebuah buku tipis dengan sampul tebal berwarna hijau. Rupanya itu adalah sebuah kamus khusus mengenai tanaman karet, &lt;i&gt;Kamus Karet Bergambar&lt;/i&gt; oleh SM Latif, Balai Penjelidikan dan Pemakaian Karet, Bogor, 1956. Di dalam kamus ini tercantum segala sesuatu mengenai tanaman perkebunan yang saat itu menjadi komoditas ekspor utama Indonesia. Selain penjelasan tentang pohon karet, juga tercantum grafik jumlah produksi dan konsumsi serta harga karet tahunan rata-rata di negeri ini sejak tahun 1900 hingga 1955.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya ekonomi dan politik, karya-karya sastra juga menjadi koleksi perpustakaan Hatta. Tak kurang dari &lt;i&gt;Gitanjali (Song Offerings)&lt;/i&gt; karya Rabindranath Tagore, pemenang Nobel Sastra dari India, dengan kata pengantar dari WB Yeats, terbitan London tahun 1946 dan &lt;i&gt;Collected Poems and Plays of Rabindranath Tagore&lt;/i&gt; memenuhi rak buku. Juga kumpulan karya sastrawan Eropa seperti &lt;i&gt;Goethes, Gesämtliche Werke in fünfundvierzig Bänden, Herausgegeben und eingeleitet von Franz Gachulz&lt;/i&gt; (Karya Lengkap Goethe dalam Empat Puluh Lima Jilid, diterbitkan dan diberi kata pengantar oleh Franz Gachulz). Tak ketinggalan pula karya penting sastrawan Rusia, Fjodor Dostoevsky, &lt;i&gt;Die Brüder Karamazoff&lt;/i&gt; (Karamazoff Bersaudara) terselip di antara buku-buku lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku terbitan akhir abad ke-19 pun dikoleksi oleh Hatta di perpustakaannya. Salah satunya adalah sebuah buku dengan ukuran lebih besar dibanding buku lainnya yang berjudul &lt;i&gt;Beschrijving van Den Atjeh-Oorlog Met Gebruikmaking Der Officieele Bronnen, Door Het Departement van Kolonien Daartoe Afgestaan, Samengesteld Door E.B. Kielstra Majoor de Genie van het Nederlandsch-Indische leger, 1883&lt;/i&gt; (Catatan-catatan Perang Aceh dengan Memakai Sumber-sumber Resmi, sejauh yang bisa diperoleh dari Departemen Tanah Jajahan, oleh E.B. Kielstra, Mayor Jeni Angkatan Perang Hindia Belanda, 1883). Sayangnya, buku setebal 502 halaman dan bernilai sejarah ini kertasnya sudah menguning serta dimakan ngengat sehingga beberapa bagian terlepas tidak terjilid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Harta karun&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perpustakaan pribadi, praktis setelah Bung Hatta tutup usia pada 14 Maret 1980 tidak ada lagi buku-buku baru yang disimpan di situ. Perpustakaan ini menjadi semacam "museum pengetahuan". Ia menjadi sumber dokumentasi sejarah dan manusia sekaligus "harta karun" yang diwariskan oleh sang Proklamator. Begitu banyak jumlah dan beragamnya buku yang tersimpan di situ menunjukkan keluasan pengetahuan sang empunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, perpustakaan ini belum mendapatkan perlakuan layaknya sebuah peninggalan sejarah. Meskipun terdapat katalog, buku-bukunya sendiri belum diberi nomor dan kategorisasi seperti umumnya sebuah perpustakaan. Diakui oleh Halida Hatta, "Kami belum sanggup menanggung biaya mengelola perpustakaan ini. Sekarang ini seorang pustakawan mengajukan harga Rp 10.000 untuk satu judul buku. Berapa puluh juta yang harus kami keluarkan hanya untuk katalogisasinya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah sebesar itu belum termasuk biaya pemeliharaan seperti pendingin ruangan selama 24 jam dan obat antirayap. Sampai saat ini, pemeliharaan maksimal yang dapat dilakukan adalah memberikan obat-obatan yang terjangkau seperti kamper, merica, dan membersihkan debu secara manual dengan mengangkat buku satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga putri Bung Hatta sendiri sebenarnya menginginkan "museum pengetahuan" ini bisa dikelola dengan teknik pengarsipan modern agar banyak orang bisa mengaksesnya tanpa harus membawa fisik buku keluar ruangan. Pertimbangannya adalah karena banyak buku yang usianya sudah tua dan secara fisik akan cepat rusak bila harus berkali-kali difotokopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pengarsipan modern itu merupakan pekerjaan besar. Memang, pendokumentasian harta peninggalan sang Proklamator ini seharusnya bukan lagi menjadi urusan anak-anak Bung Hatta saja, melainkan juga merupakan urusan para pejabat negara yang menyadari pentingnya arti arsip bagi penelusuran sejarah bangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Kompas Edisi Pustakaloka 17 September 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-1973703496249412470?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/1973703496249412470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=1973703496249412470' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/1973703496249412470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/1973703496249412470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/koleksi-buku-perpustakaan-pribadi-bung.html' title='Koleksi Perpustakaan Pribadi Bung Hatta'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-5064519902113278029</id><published>2007-09-15T17:55:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T17:56:52.509-07:00</updated><title type='text'>Perpustakaan, Surga Para Mayoga</title><content type='html'>Madrasah Aliyah Negeri Yogyakarta III atau biasa dijuluki Mayoga mampu mengubah citra buku yang sering kali dianggap momok menakutkan menjadi barang paling dicari. Para siswa di sekolah tersebut bahkan rela menghabiskan waktu berjam-jam di Perpustakaan Mayoga yang mereka juluki "Mayoga Heaven" atau "Surga Mayoga".&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswi kelas X, Endah, dan beberapa rekan mengaku telah menjadikan perpustakaan tersebut sebagai tempat paling favorit di sekolah. Mereka lebih suka menghabiskan waktu istirahat memelototi aneka buku ketimbang nongkrong di kantin. "Di kantin malah boros, kalau di sini (perpustakaan) murah, meriah, dan menyenangkan," ujar Endah, diikuti tawa rekan-rekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menambah ilmu pengetahuan, para siswa bisa meminjam buku- buku cerita. Endah mengaku menyukai buku bertema cerita cinta, sedangkan teman sekelasnya, Sigit, lebih memilih buku tentang agama dan ilmu murni. "Suka banget, betah hingga berjam-jam," ucap Endah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan yang dilengkapi dengan hotspot serta lima komputer yang bisa mengakses internet gratis ini ternyata juga dimanfaatkan oleh staf sekolah. Tukang kebun sekolah, Teguh, selalu menyempatkan diri untuk membaca surat kabar edisi terbaru. Bagi Teguh, satu jam setiap hari di perpustakaan bisa meningkatkan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyamanan, kelengkapan, dan aneka program pendongkrak minat baca membawa perpustakaan ini meraih Juara Pertama Tingkat Nasional pada lomba perpustakaan sekolah yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional pada 3-5 September.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Konsultan Perpustakaan Zaenal Fanani, keberhasilan tersebut tak lepas dari program inovatif yang dimunculkan. Untuk mendongkrak minat baca, Mayoga menjadi satu-satunya sekolah di DI Yogyakarta yang menerapkan muatan lokal (mulok) Pengembangan, Pengenalan, dan Minat Baca. Dengan pembelajaran selama dua jam tiap minggu terbukti minat baca siswa terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama ini image buku dianggap serius. Padahal, banyak buku yang gaul. Mulok dan kehadiran perpustakaan menjadi solusi dongkrak rendahnya indeks membaca pelajar Indonesia yang hanya 0,009 persen," ungkap Zaenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Urusan Pendayagunaan Perpustakaan Rodatun Widayati menambahkan, peningkatan minat baca terdongkrak sejak perpustakaan diletakkan pada tempat paling strategis, yaitu di ruang terdepan sebagai etalase madrasah. Jam pelayanan perpustakaan ini juga diperpanjang hingga pukul 16.30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyamanan siswa saat membaca juga diperhitungkan dengan pemasangan pendingin ruangan serta audio musik. Ruangan juga didesain penuh warna sehingga menimbulkan kesan ceria. "Nantinya pembelajaran tak lagi berpusat pada guru, tetapi lebih ke arah student center learning," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi perpustakaan, menurut Kepala Urusan Kurikulum Thoha, terdiri atas 8.699 judul buku serta 571 judul nonbuku berupa kepingan VCD. Setiap hari pengelola perpustakaan yang berada langsung di bawah kepala madrasah selalu berbelanja buku. Pada 2007 saja mereka menganggarkan Rp 200 juta untuk fasilitasi perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para siswa juga bisa mengetahui koleksi perpustakaan dengan menggunakan internet. Di waktu mendatang Mayoga bertekad akan bertransformasi menjadi hibryd library. "Tidak secara tradisional mengandalkan buku koleksi, tetapi multiakses dan multikoleksi dari internet hingga intranet menuju era virtual classroom," ujar Zaenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Kompas Jogja Edisi 12 September 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-5064519902113278029?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/5064519902113278029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=5064519902113278029' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/5064519902113278029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/5064519902113278029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/perpustakaan-surga-para-mayoga.html' title='Perpustakaan, Surga Para Mayoga'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-1274495010076927714</id><published>2007-09-15T17:39:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T17:40:46.219-07:00</updated><title type='text'>Tak Ada Clifford Geertz di (Perpus) Pare</title><content type='html'>Siapa akademisi yang bergelut di bidang sosial dan antropologi yang tak kenal dengan sepotong nama: Clifford Geertz (Lahir: San Francisco, 23 Agustus 1926). Siapa pula yang tak kenal dengan generalisasi antropologisnya yang nyaris klasik tentang (pemeluk) agama di Jawa: Santri, Abangan, dan Priyayi dalam karyanya The Religion of Java? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala antropolog asal Amerika Serikat ini mangkat setahun silam, 30 Oktober 2006, nyaris semua koran memuat ulasan in memoriam-nya. Bahkan Harian Kompas dan Lingkar Muda Indonesia sepurnama setelah kepergiannya harus mengadakan sebuah “tahlilan diskusi” untuk mengenang jasa “sang penemu” kategorisasi beragama di Jawa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi (orang) Pare—atau Geertz menyamarkannya dengan nama lain: Mojokuto—apa arti sepotong nama ini? Saya berani bertaruh mencari orang yang tahu nama ini saja di jantung kota Pare ibarat mencari seekor kutu di dalam lumbung. Padahal jasa Geertz memperkenalkan nama kota ini ke jantung universitas-universitas Eropa dan Amerika—khususnya yang mengkaji hal-ihwal spiritualitas masyarakat Jawa—bukanlah sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama datanglah ke perpustakaan kota ini yang berada di Jl Kerinci di sisi kanan kawedanan (Pare adalah kawedanan termasyhur di seantero Jawa Timur). Jika Anda datang pagi hari, Anda akan melewati pasar kliti'an tibanan. Perpustakaan itu bernama Wisma Perpustakaan Mas Trip yang mengingatkan kita dengan perpustakaan Kediri. Dari namanya saja terungkap bahwa perpustakaan ini sumbangan dari yayasan yang diambil dari nama seorang pelajar-prajurit yang sadar betapa pentingnya literasi bagi pertumbuhan masyarakat Pare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan yang diresmikan Mendikbud Fuad Hassan pada 30 November 1989 ini terdiri dari dua lantai. Di lantai satu terdapat buku-buku literatur seperti ensiklopedia, kliping majalah, koran, dan meja petugas jaga yang jumlahnya sekira tujuh orang. Abaikan dan tak usah berkeringat-keringat menyusur semua lema judul buku di laci katalog. Langsung saja memeriksa satu per satu rak buku yang memang tak terlalu banyak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rak buku literatur asing hanya ada satu rak. Sementara di bagian agama, hanya berbaris segelintir buku yang sampulnya sudah kusam. Nyaris tak ada buku baru di sini. Sepenuturan salah seorang petugasnya, Mas Hendro, perpustakaan ini memang sedang koma. Selalu buka tapi pengunjungnya kian sepi lantaran buku yang tersedia cuma itu-itu saja. Jangankan buku baru atau yang paling prestisius adalah digital library di temukan di kota yang namanya sudah menginternasional ini, di perpustakaan ini komputer keluaran paling kuno sekali pun tak terlihat nongkrong di atas meja petugas. Cuma ada satu mesin ketik yang berukuran sedang dan radio transistor tua keluaran zaman “Bambu Runcing”. Kata Mas Hendro, radio yang sudah tunawicara itu kepunyaan teman mereka yang sudah almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya setengah jam mencari, saya pun berkesimpulan, Geertz tak ada di perpustakaan ini. Saya coba turun ke lantai satu dan menanyakan kepada petugas apakah ada nama Geertz bersemayam di sini. Jawabannya agak berbelit-belit dan dengan pasti mengarah pada kesimpulan: tak ada. “Sepertinya saya pernah baca nama itu di Jawa Pos. Nggak tahu kapan. Tapi hanya orang-orang tertentu yang punya buku itu. Tapi setahu saya masih penelitian dan buku itu belum dibukukan,” demikian keterangan itu sambil saya ditunjukkan seorang kiai di sebuah pesantren di Tulungrejo. Saya diam saja tak membantah. Sebab setahu saya buku itu sudah lama sekali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan terbit berbentuk buku yang sebenar-benarnya. Bahkan buku-bukunya yang lain selain Religion of Java juga sudah terbit, seperti The Interpretation of Cultures, Negara: The Theatre State in 19th-Century Bali, The Politics of Culture, maupun After the Fact.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan setengah panik, saya kemudian menanyai satu per satu pengunjung di lantai dua yang beberapa masih siswa dan lainnya beberapa pemuda. Satu orang, dua orang, enam orang. Jawabannya segendang sepenarian: tak ada yang tahu bahwa Clifford Geertz itu nama orang dan bahkan menganjurkan cari saja di bagian biografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah ada orang terakhir yang menyebabkan saya tak jadi seperti orang gila yang hendak bertanya setiap pedagang barang rongsokan yang berbaris manis di sepanjang Jl Kerinci di mana perpustakaan ini berdiri. Namanya Sindu dari Desa Krenceng, Kecamatan Kepu. Dia sedang suntuk membaca di sudut ruangan. Rupanya dia tahu subjek yang sedang saya cari. Bahkan pengalamannya sebagai sales yang menguasai gang-gang tikus seisi kawedanan ini mampu meyakinkan saya bahwa Geertz pernah tinggal di jantung kota ini. Ia lalu bertutur banyak tentang sisa-sisa penjelajahan Geertz yang menurut hematnya berpusat pada pasar yang dihuni oleh masyarakat urban, tradisional, pendatang Arab, maupun loji serdadu Belanda. “Ada satu gang di depan Taman Thamrin. Masuk saja ke situ. Ada rumah yang di situ tertulis ‘Clifford Geertz – Mojokuto’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang menuju alamat yang ditunjukkan. Pertama-tama memasuki Gang Welirang yang tepat berada di depan Taman Thamrin. Setelah dua kali berputar-putar tak ketemu, saya berhenti di sebuah warung. Si mbok pemilik warung dengan suara menaik mengatakan ketaktahuan dan sekaligus keheranannya: “Siapa itu, Mas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya saya menyusuri Jalan Kawi yang tembus ke Pasar Pare. Dan beruntunglah saya setelah bertanya sekali, dioper kepada dua orang sepuh yang barangkali bisa tahu nama yang sedang saya cari. Orang pertama bernama Mbok Sutiyah. Dia adalah angkatan perintis kemerdekaan dan satu-satunya di Kawedanan Pare yang masih hidup sampai saat ini. Beliau juga mengaku tak pernah tahu bahwa ada seorang londo bernama Geertz keluar masuk Jalan Kawi ini untuk nongkrong-nongkrong di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di depan rumah Mbok Sutiyah ada Mbah Gento Pawiro yang juga sudah uzur. Beliau juga sami mawon dan katanya tak ada kos-kosan yang ditinggali londo bernama Clifford Geertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah. Dengan setengah putus asa saya belok kanan dan pulang mengambil jalur melewati Pasar Lawas. Sebab sepenuturan Sindu, untuk meneliti Geertz mesti melihat pasar ini di mana Geertz juga mengikuti secara dekat pola hubungan simbolisme budaya masyarakat Pare atau Mojokuto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu jadi trenyuh. Indonesianis satu ini sudah berlelah-lelah meneliti kehidupan kota ini pada sebuah masa dan menyebarkan informasi ini ke universitas-universitas terbaik dunia. Namanya bahkan nyaris jadi jimat untuk studi antropologi (dan juga sosiologi). Tapi pada saat bersamaan nyaris semua warga kota ini tak mengenal sepotong pun namanya. Bahkan generasi yang paling sepuh sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tak menyalahkan ketaktahuan warga Pare yang saya temui atas kehadiran sosok Geertz di kota mereka. Yang patut disayangkan adalah perpustakaan tak mampu menjalankan fungsinya sebagai pusat literasi masyarakat dan persemayaman ingatan akan laku hidup pengetahuan yang pernah diciptakan manusia. Bayangkan, perpustakaan ini saja tak sanggup mengabadikan nama Geertz, apalagi berharap banyak para pelajar belianya untuk kukuh melafadzkan namanya—syukur-syukur bisa membacai satu-dua karyanya. (Muhidin M Dahlan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-1274495010076927714?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/1274495010076927714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=1274495010076927714' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/1274495010076927714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/1274495010076927714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/tak-ada-clifford-geertz-di-perpus-pare.html' title='Tak Ada Clifford Geertz di (Perpus) Pare'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-4305615922378624566</id><published>2007-09-15T17:37:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T17:39:16.153-07:00</updated><title type='text'>Se-Yogya-nya Perpusda Malioboro Dipindah</title><content type='html'>Kepala Perpustakaan Daerah Malioboro Saroha Sinaga di Harian Kompas 7/8/2007) mengatakan Perpustakaan Malioboro sedang mengalami proses rehab setelah tembok-temboknya dirayapi gempa pada 27 Mei setahun silam. Tentu ini berita baik. Sebab sudah sangat lama—bahkan sebelum dikukut gempa—perpustakaan ini berdandan jorok, apak, dan ribut. Membayangkan kekhusyukan membaca buku di perpustakaan ini hanyalah angan-angan kosong. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat sulit memberi representasi Yogyakarta sebagai kota-buku jika mendapatkan perpustakaan dengan kondisi yang begini mengerikan di jantung (niaga) kota. Dari depan, perpustakaan ini sudah memperlihatkan rautnya yang rudin, keropos, dengan plang yang mengalami miopia akut. Sosoknya kalah bersaing dengan baliho-baliho nama toko yang berdiri rapat di kiri-kanan-depannya yang berwarna pastel mengkilat, segar memanjakan mata, dan seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para akademisi atau mahasiswa yang pertama kali datang ke Yogyakarta akan begitu sulit mengenali perpustakaan ini. Jika tak bertanya pada tukang becak di sepanjang Malioboro, dibutuhkan tiga empat kali melintas dengan mata superawas untuk menandai muka perpustakaan ini. Sebab selain plangnya yang mulai gelap, di depan pintunya dibentengi barisan para penjaja kain dan onderdil kerajinan dengan manusia-manusia pembelanja yang bersiliweran tiada putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya untuk masuk saja pengunjung sudah dihadang oleh benteng-benteng pasar. Di dalamnya pun, kondisi tenang selayaknya perpustakaan menjadi barang teramat langka. Kalau yang kita dengarkan adalah riuh perdebatan tentang buku dan pengetahuan dalam perpustakaan mungkin wajar. Tapi di sini tidak. Suara yang mendominasi adalah kaingan suara tawar-menawar barang dagangan di sela pintu. Sambil baca di ruang tengah, kita juga akan selalu dipaksa mendengar bagaimana para penjual kain dengan bahasa Inggris hapalan merayu bule-bule yang melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tak usahlah ditanya bagaimana bau perpustakaan ini. Tak menjadi soal jika seseorang yang berkunjung adalah para kutu buku yang selalu bugar mencium bau kertas busuk. Tapi bagaimana dengan remaja-remaja SMA atau mahasiswa-mahasiswa modis berjenis homo cafeinensis yang malas ke perpustakaan dan jika pun ke perpustakaan hanya karena dipaksa membuat makalah atau studi tentang sastra, bahasa, dan media. Bahkan pernah ada yang baru pertama kali masuk setelah keluar kepala pening dan mata berkunang-kunang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saya sepakat dengan renovasi perpustakaan ini. Tapi itu saja belum cukup. Sebab yang se-yogya-nya adalah perpustakaan ini sudah harus angkat kaki dari arena pasar yang sumpek ini. Saatnya ia dibedol. Mesti tahu diri bahwa perpustakaan ini sudah tak layak tinggal di antara distro-distro gemerlap yang tampil anakronik dengan seragam masih ala Jaka Sembung, Si Buta dari Goa Selarong, atau pendekar-pendekar dari Bukit Menoreh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitasnya pun tak memadai. Lahan parkir tak punya. Sirkulasi udara buruk karena diapit rapat oleh toko-toko. Dan yang paling penting, perpustakaan ini terlampau ribut oleh teriakan-teriakan para pedagang di serambi. Jadi, semua syarat sebagai perpustakaan yang lebih terhormat dan hening tak didapatkan di bangunan bernomor 175 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketimbang terus bersatu dengan yang bukan habitatnya, pemerintah kota bisa berpikir untuk mendekatkannya dengan pusat-pusat kebudayaan, kebersenimanan, dan perbukuan di Yogyakarta—dan bukan melemparnya terlalu jauh seperti di gedung Cebongan, Mlati, Sleman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alternatif ruang baru untuk perpustakaan ini. Tempat yang paling utama tentu saja perpustakaan ini dipindah ke kawasan Taman Pintar dan Taman Budaya Yogyakarta. Sudah lama sebetulnya saya membayangkan bagaimana toko buku, perpustakaan sastra, bahasa, media, dan pusat aktivitas seniman dan sastrawan berada dalam satu kawasan yang memang sudah tertata dengan rapi, bersih, dan insya Allah bermartabat. Tiga elemen itu adalah perpaduan yang elegan untuk membangkitkan citra baru kawasan Bringharjo itu sebagai “kawasan-buku-budaya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berdekatan dengan Gedung Oval tempat anak-anak bermain, perpustakaan pun bisa menyesuaikan diri dengan menambah lini ruangan sebagai perpustakaan anak dengan tampilan yang “sangat-anak”; sesuatu yang tidak didapatkan jika perpustakaan ini masih dipertahankan di gedung nomor 175. Memang di tempat ini ada perpustakaan anak, tapi kondisinya mirip kamar mahasiswa kos yang sedang putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bertetangga dengan gerai-gerai buku, maka perpustakaan bisa mengambil inisiatif untuk menyiapkan ruang bagi perhelatan acara-acara peluncuran buku baru atau seminar soal isu pendidikan dan perbukuan. Selama ini bedah buku kerap dipusatkan di kampus-kampus atau beberapa kali diselenggarakan oleh toko besar. Dengan adanya perpustakaan ini, semangat itu bisa dikelola di mana pengunjungnya adalah juga para pembeli buku. Dengan demikian, kesan “shoping” yang sudah sangat melegenda itu, bukan sekadar tempat jual-beli buku dengan rabat tinggi, tapi juga kawasan menimba dan mengoplos pengetahuan yang berdiam di halaman-halaman buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa terlalu sulit memindahkannya? Tak terlalu sulit jika pemerintah kota mau. Apalagi pemerintah memang sedang mematangkan sebuah semangat untuk menjadikan Yogyakarta sebagai salah satu kota wisata buku yang megah. Biarlah tanah dan gedung 175 itu dilego ke para saudagar yang memang gedung itu paling pas untuk perniagaan. Dengan dana dari hasil penjualan itu dan ditambah dengan kucuran dana segar dari pemerintah, dibuatlah bangunan baru di sisi kiri gedung Taman Budaya Yogyakarta yang masih luas dan lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang butuh waktu. Tapi jika menghabiskan dana percuma untuk renovasi tapi kondisi perpustakaan bermartabat minimum tak didapatkan, bukankah lebih baik memikirkan usaha pemindahan. Kalau pun misalnya sudah kadung direnovasi, cukup diniatkan sebagai perbaikan struktur agar nilai jualnya kepada para saudagar juga naik berlipat-lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha pemindahan ini bukan saja ingin meraih semangat maksimum sebuah perpustakaan yang hening, asri, dengan ratusan ribu koleksi, tapi juga menyelamatkan wajah perpustakaan dari citra yang angker, seram, dan sekaligus menyedihkan. (Muhidin M Dahlan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-4305615922378624566?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/4305615922378624566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=4305615922378624566' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/4305615922378624566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/4305615922378624566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/se-yogya-nya-perpusda-malioboro.html' title='Se-Yogya-nya Perpusda Malioboro Dipindah'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-3337384388190883680</id><published>2007-09-15T17:35:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T17:36:48.018-07:00</updated><title type='text'>Prioritas, Pengembangan Perpustakaan</title><content type='html'>Perpustakaan masih merupakan salah satu sarana pendidikan penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Masalahnya, jangankan kualitas, kuantitas perpustakaan standar untuk sekolah-sekolah dasar di Indonesia masih jauh dari memadai. Karena itu, pemerintah ataupun dunia usaha seharusnya memberi perhatian cukup besar untuk pengembangan perpustakaan di sekolah-sekolah. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengelolaan buku-buku literasi dan pengetahuan lewat perpustakaan harus menjadi upaya yang terus dilakukan di sekolah-sekolah, di tengah gempuran berbagai jenis media alternatif lain seperti televisi atau dunia maya. Sebagai bentuk perhatian atas problema itulah harian Kompas meletakkan komitmen untuk ikut mengembangkan perpustakaan sekolah-sekolah, terutama sekolah dasar," ujar Wakil Redaktur Pelaksana Harian Kompas Budiman Tanuredjo dalam peresmian penggunaan perpustakaan di SD Negeri 7 dan SD Negeri 8 di Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu (22/8) pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan itu dibangun oleh Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) bekerja sama dengan perusahaan jasa konsultan Accenture, dengan harapan bisa menjadi perpustakaan percontohan tingkat SD, yang mengintegrasikan aktivitas perpustakaan dengan proses belajar di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peresmian perpustakaan disaksikan Direktur Pengelolaan Wilayah PT Accenture Julianto Sidarto, GM Humas Kompas-Gramedia Nugroho F Yudho, dan para pamong sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Kompas Edisi 23 Agustus 2007 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-3337384388190883680?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/3337384388190883680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=3337384388190883680' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/3337384388190883680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/3337384388190883680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/prioritas-pengembangan-perpustakaan.html' title='Prioritas, Pengembangan Perpustakaan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-8122030069487047147</id><published>2007-09-15T17:34:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T17:35:24.307-07:00</updated><title type='text'>Salmubi, Pustakawan Berprestasi 2007</title><content type='html'>Setelah melalui serangkaian acara seleksi pemilihan Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional 2007, Salmubi yang merupakan pustakawan di Politeknik Negeri Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, berhasil meraih predikat juara pertama. Salmubi mengalahkan 29 peserta lainnya dari berbagai provinsi lewat proses seleksi yang ketat. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Perpustakaan Nasional Dady P Rachmananta di Jakarta, Kamis (16/8), mengatakan, terpilihnya pustakawan berprestasi terbaik ini diharapkan akan dapat menginspirasi pustakawan lainnya untuk terus berkarya secara profesional di bidang perpustakaan, dokumentasi, ataupun informasi dalam melayani kebutuhan informasi masyarakat luas.&lt;br /&gt;Penerima penghargaan lainnya adalah M Tawwaf (Riau), F Rahayuningsih (Yogyakarta), Hartono (DKI Jakarta) Ade Abdul Hak (Banten), dan Dwi Endah Purwanti (Sumatera Utara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Kompas Edisi Senin 20 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-8122030069487047147?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/8122030069487047147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=8122030069487047147' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/8122030069487047147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/8122030069487047147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/salmubi-pustakawan-berprestasi-2007.html' title='Salmubi, Pustakawan Berprestasi 2007'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-780800533362744607</id><published>2007-09-15T17:33:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T17:34:06.606-07:00</updated><title type='text'>Andai Saya Pegawai Perpustakaan</title><content type='html'>Andai Zen Rahmat Sugito ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI)....&lt;br /&gt;Dia akan tahu bahwa pengunjung perpustakaan tak menganggap perpustakaan sebagai gudang buku dan koran-koran tua yang apak. Pengunjung dan pelanggan tahu bahwa PNRI adalah surga. Di PNRI inilah, pengunjung bebas berpakaian apa saja dari kaos oblong hingga jas resmi. Pengunjung juga bebas mengenakan sandal, sepatu sandal, hingga sepatu. Satu yang tak diperkenankan, pengunjung yang tak berpakaian apa pun. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sanalah senyum ramah para pegawai ditemukan. Meski juga terkadang didapati muka sangar seoarang satpam. Mereka siap menegur, pada mereka yang melanggar peraturan: membawa tas ke dalam ruangan. Sebabnya book crime kerap terjadi. Atau bentakan petugas di ruangan koleksi koran dan majalah tua ketika melihat pengunjung sembarangan membuka lembaran berharga yang renta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika saya petugas perpustakaan....&lt;br /&gt;Saya akan mengikuti nasehat saudara Zen, saya akan mencari kebijaksanaan. Seperti pegawai PNRI, saya akan melayani pengunjung dan pelanggan sebaik mungkin. Dari sanalah kebijaksanaan akan saya dapat. Seperti pegawai PNRI juga, saya akan sibuk melayani pengunjung selama Senin sampai Jumat. Tapi jika Sabtu, please ijinkan saya sesekali malas. Saya piket sendirian. Empat teman saya libur. Saya tak sanggup melayani 5 sampai 10 pelanggan atau pengunjung dalam 6 jam. Please....maklumi saya...saya juga manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pegawai PNRI, saya akan juga belajar dan banyak membaca dari pengunjung dan pelanggan. Kecerdasan saya akan makin bertambah, jika pengunjung cari data yang “aneh-aneh”. Apalagi jika mereka mencari buku, majalah, koran yang asing di telinga saya. Dengan seperti itu, otomatis saya ikut membaca, minimal tahu judulnya. Seperti pegawai PNRI, pengetahuan saya akan bertambah akibat terbiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk ketika pegawai PNRI di lantai 7 bisa membandingkan wajah Hasyim Ashari muda yang jauh lebih tampan dibandingkan, maaf, anaknya. Juga Semaun yang, maaf, bertubuh kerdil. Mereka jadi kenal Tirto Adhi Soerjo, karena ada pengunjung yang meminta dicopykan sebundel Medan Prijaji. Pengetahuan ini didapatkan dari pesanan buku, koran, majalah dari pengunjung yang asing di telinga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini saya berkesimpulan, di perpustakaan berlaku simbiosis mutualisme pengetahuan. (Saya bingung harus mengutip siapa untuk menggambarkan hal ini.) Saya yakin perpustakaan adalah muara pengetahuan, tempat bertemunya beragam pengetahuan. Bukan hanya pengetahuan yang tersedia dalam teks, tapi juga pengetahuan lain yang tak dituangkan dalam teks. Seperti contoh makna sabar bagi pengunjung yang menunggu pelayanan petugas yang lambat. Sebaliknya petugas yang muski bersabar melihat pengunjung yang datang ke perpustakaan hanya untuk ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, andai saya pegawai perpustakaan....&lt;br /&gt;Saya pasti tak lolos trainingnya saudara Zen. Ingatan saya tak mampu menghafal 10 ribu buku lebih beserta letaknya di perpustakaan. Ingatan saya begitu pendek. Sebagai gantinya saya justru akan memelajari bagaimana katalogisasi, pelabelan buku, meletakkan buku, merawat buku yang baik dan benar. Biar ketika ada pesanan pengunjung, saya akan dengan cepat bisa menyajikannya plus senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saya pegawai perpustakaan...&lt;br /&gt;Saya juga akan mengusulkan kepada Kepala Perpustakaan, pemerintah, pengusaha, dan semua orang yang peduli pada pengetahuan untuk membantu biaya perawatan buku, majalah, koran, dan semua koleksi di perpustakaan baik swasta atau negeri. Sebab saya kasihan jika biaya ini harus dibebankan pada pengunjung (pengakses perpustakaan). Saya iba pada para pengunjung sudra, seperti saya, yang ingin menggandakan data dari koleksi di perpustakaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah contoh tarif fotocopy yang konon untuk biaya perawatan koleksi buku, koran dan majalah di PNRI. Di PNRI berlaku logika: semakin tua semakin mahal. (Logika ini berbanding terbalik dengan logika tarif di Dolly, Sarkem, atau Saritem: semakin tua dan jelek, semakin murah.) Jika koleksi tarif fotocopy buku koleksi tahun &lt;1900-1920 seharga Rp 1000 per lembar, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya bisa hitung sendiri berapa ongkos yang dikeluarkan untuk buku setebal 100 lembar. Atau misalkan pengunjung bisa ikut mengoleksi sebundel cetakan pertama Max Havelaar, atau mengoleksi hasil fotocopy-an sebundel Medan Prijaji, Doenia Bergerak, atau Sin Po.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara ini kelihatannya sepele bagi yang berduit. Tapi ini bukan perkara duit semata. Perkara ini menunjukan bahwa akses pengetahuan di negeri bernama Indonesia begitu mahal. Mahalnya akses pengetahuan inilah, barangkali, yang menyebabkan koleksi buku, koran, majalah di perpustakaan dicuri, disobek, dan terjadinya kolusi di perpustakaan. Perkara ini tak hanya terjadi di PNRI tapi hampir di setiap perpustakaan dari Merauke hingga Sabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dengan memfotocopy itu ada semangat untuk mendokomentasikan, merawat, dan rasa memiliki terhadap catatan peradaban manusia. Saudara-saudara bisa bayangkan, andai suatu saat koleksi buku, koran, dan majalah kuno satu-satunya di perpustakaan lenyap. Dari sini bisa ditarik kesimpulan, menggandakan koleksi kuno berarti juga ikut menyelamatkan peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saya pegawai perpustakaan...&lt;br /&gt;Saya akan meminta semua orang seperti Luis Borges. Menjadi seperti Borges yang terus membaca sampai buta dan ajal menjemput bukan hanya tanggung jawab pegawai perpustakaan atau pustakawan. Membaca itu perkara universal. Setiap manusia seyogyanya terus membaca tak hanya yang berupa teks tapi juga realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh!!! Apa yang barusan saya tulis kok lama-lama menggurui bukannya berandai-andai? Maafkan saya pembaca, jika harus berbagi pengalaman selama kurang lebih setengah tahun menjadi pengunjung harian di PNRI. Di sana saya tahu PNRI bukan hanya menjadi surga bagi pengunjung dan peneliti tapi juga bagi para pegawai yang diberi “kenikmatan” orang yang ingin menggandakan buku atau koleksi lainnya. Duh Gusti...duit kok jadi dyldo. (Agung Dwi Hartanto)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-780800533362744607?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/780800533362744607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=780800533362744607' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/780800533362744607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/780800533362744607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/andai-saya-pegawai-perpustakaan.html' title='Andai Saya Pegawai Perpustakaan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-7799760827717652030</id><published>2007-09-15T17:31:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T17:32:55.904-07:00</updated><title type='text'>Andai Saya Kepala Perpustakaan</title><content type='html'>Seandainya saya Kepala Perpustakaan...&lt;br /&gt;Saya ingin semua pengunjung tahu bahwa perpustakaan yang saya pimpin tak lebih dari gudang penyimpanan buku dan kertas-kertas tua yang apak. Saya ingin pengunjung sadar bahwa perpustakaan adalah surga.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perpustakaan adalah surga, tak akan saya biarkan ada pustakawan yang memarahi pengunjung hanya karena dia menggunakan sandal jepit, hanya memakai kaos oblong, atau karena bajunya tak dimasukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sepertinya sepele. Tapi, dengan melayani pengunjung dengan ramah dan bersemangat, pustakawan bisa memainkan andil besar dalam upaya mencerdaskan bangsa ini lewat kerja-kerja kecil nan sepele namun bisa begitu berharga di sebuah negeri dengan minat baca masih kelas jongkok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saya Kepala Perpustakaan...&lt;br /&gt;Saya akan menegaskan pada semua calon pustakawan bahwa pustakawan tidak sama dengan "karyawan perpustakaan". Pustakawan sama derajatnya dengan para ilmuwan, cendekiawan, dan orang-orang hebat yang menghabiskan waktunya dengan mencari kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Socrates pernah bilang: orang yang memiliki banyak pengetahuan akan mengerti bahwa masih banyak hal yang belum ia ketahui. Orang yang rendah hati macam itu biasanya tahu di mana ia bisa mendapatkan pengetahuan dan informasi yang belum ia kuasai dan ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di titik itulah pustawakan hadir sebagai "orang yang paling berpengetahuan" atau dalam artikulasi yang rendah hati, pustakawan bisa dibilang sebagai orang yang paling berpotensi membantu mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan. Sebab, hanya pustakawan saja yang mengerti di rak buku mana, di lantai berapa, dan di katalog mana buku atau naskah yang sedang dicari para pemburu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestikah diherankan jika jenius macam John Nash memilih menjadi pustakawan kampus sewaktu dinyatakan sudah sembuh dari penyakit schizoprenia. Dari perpustakaan tempatnya bekerja itulah ia bisa berdialog dengan mahasiswa cerdas dan bisa menggelar musyawarah sunyi dengan buku-buku yang melimpah. Dari sanalah ia meneruskan penemuan-penemuannya hingga ditahbiskan sebagai peraih Nobel Ekonomi pada 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara yang otoriter atau baru sedang belajar berdemokrasi, pustakawan adalah salah satu punggawa kebebasan manusia dalam menemukan, memilah, dan memamah bacaan dan pengetahuan. Pustawakan bisa menjadi komprador ketika ikut-ikutan menyembunyikan bacaan dan pengetahuan yang dianggap subversif. Tetapi pustawakan juga bisa menjadi pahlawan. Saya ingat, perpustakaan dan para pustakawan Ignatius, Kota Baru, Jogjakarta, misalnya, adalah satu dari sedikit sekali perpustakaan yang tetap menyediakan bacaan-bacaan subversif yang melimpah pada masa Orde Baru. Haris Rusli Moty, mantan ketua PRD di awal-awal reformasi, pernah dengan penuh takzim berterima kasih kepada para pustakawan di sana yang tetap melayaninya dengan ramah dan tak menaruh curiga kendati ia berkali-kali meminta buku-buku Karl Marx yang pada masa Soeharto menjadi bacaan liar dan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran sederhana itulah yang membuat pustawakan bisa berjalan dengan kepala tegak sebagai "penjaga kebebasan mencari pengetahuan dan informasi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saya menjadi Kepala Perpustakaan...&lt;br /&gt;Saya akan men-training para calon pustawakan dengan cara menugasi mereka menguasai dan jika mampu menghafal judul-judul buku di salah satu ruangan yang sudah ditentukan. Mereka harus sesering mungkin berjalan di antara rak-rak buku sembari membaca judul-judul buku yang tercetak di punggung setiap buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika selama training mereka melakukan itu dengan konsisten dan bersemangat, mereka akan tahu dengan detail sebagian besar koleksi buku di ruangan tempat ia bekerja. Jika itu berlanjut terus, kita akan melihat pemandangan menyenangkan ketika ada pustakawan langsung menunjuk di rak mana persisnya sebuah buku yang ditanyakan pengunjung tanpa ia membuka katalog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melakukan itu, saya ingin para pustakawan yang saya pimpin sadar bahwa buku-buku yang mereka rawat dan jaga setiap hari bukanlah benda mati seperti TV atau kuali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku adalah makhluk hidup yang akan bertumbuh dan berkecambah dalam kepala orang-orang yang membacanya. Dari orang-orang yang kepalanya dikecambahi bacaan itulah, buku-buku berikutnya akan dilahirkan. Buku adalah makhluk hidup karena setiap buku adalah pendahulu dari buku-buku yang akan ditulis kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melakukan itu, saya berharap bisa menanamkan kecintaan para pustakawan kepada buku. Jika ada pustakawan yang marah karena pengunjung melipat halaman buku seenaknya, kemarahan itu bukan digerakkan oleh logika "petugas penjaga", tetapi kemarahan itu digerakkan oleh rasa sedih seorang pecinta buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sikap itu sudah muncul, jangan heran jika kelak ada pustawakan kita yang bisa menulis sehebat ini: Seorang pustakawan berkaca mata gelap bertanya kepadanya: Apakah yang Anda sedang cari? Hladik menjawab: Saya sedang mencari Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustakawan itu menjawab: Tuhan itu ada pada salah satu dari beberapa kata di salah satu halaman buku yang berjumlah empat ratus ribu jilid (perpustakaan) Clementine. Saya sendiri sudah hampir buta semata-mata karena terus mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun membuka kaca mata gelapnya, dan Hladik melihat mata pustakawan itu, yang telah lama mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paragraf-paragraf itu ditulis Jorge Luis Borges, peraih Nobel Sastra 1986, dalam salah satu ceritanya berjudul "The Secret Miracle". Borges pada masa mudanya pernah menjadi pustawakan di Municipal Library dan pada usia dewasa ia menjadi Director of the National Library of Argentina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika matanya divonis terancam buta, ia disarankan menghentikan kegiatan membaca. Alih-alih menghentikan membaca, Borges malah memerbanyak bacaannya. Katanya, "Saya harus membaca sebanyak mungkin karena saya tak mau dikalahkan oleh kebutaan dalam perlombaan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Borges adalah penulis hebat yang memulai karirnya dengan menjadi pustakawan.&lt;br /&gt;Aih, semua yang saya tulis barusan sepertinya hanya mimpi dan igauan, persisnya mimpi seorang penjaga taman bacaan. (Zen Rahmat Sugito)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-7799760827717652030?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/7799760827717652030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=7799760827717652030' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/7799760827717652030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/7799760827717652030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/andai-saya-kepala-perpustakaan.html' title='Andai Saya Kepala Perpustakaan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-1445105203924215716</id><published>2007-09-15T17:29:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T17:30:21.434-07:00</updated><title type='text'>Mobil Perpustakaan Keliling Masuk Desa</title><content type='html'>Masyarakat yang tinggal di kawasan pedesaan juga sangat mengharapkan kehadiran perpustakaan keliling. Titik, warga Muneng, Warangan, Kecamatan Pakis misalnya menegaskan sudah lama warga di desa itu mengharapkan kehadiran perpustakaan keliling. Namun hingga saat ini, belum pernah kesampaian. "Padahal, keinginan warga di sini, kehadiran perpustakaan keliling itu dapat merangsang keberadaan perpustakaan desa," katanya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutrisno, warga Banyusidi berharap mobil perpustakaan keliling tidak mengunjungi sekolah-sekolah saja. Tapi juga desa-desa terpencil agar masyarakat juga dapat menikmati berbagai buku bacaan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama ini, saya melihatnya, mobil perpustakaan itu hanya singgah di sekolah-sekolah. Padahal di sekolah itu, sebenarnya sudah ada perpustakaan. Alangkah lebih baik, juga singgah di desa-desa, karena saya yakin masyarakat sangat haus akan infornasi," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaenal, pengelola perpustakaan daerah di Muntilan mengakui saat ini hanya ada satu unit mobil perpustakaan keliling. Bukan aneh, kalau tidak mampu menjangkau seluruh desa yang tersebar di 21 kecamatan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan keterbatasan mobil yang ada, paling tidak setiap kecamatan sekali sebulan. Setiap hari mobil itu harus keliling berdasar jadwal yang telah disusun," katanya, didampingi Supriyanto, sejawatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjangkau desa-desa yang tersebar, menurut Zaenal, idealnya harus ada empat unit mobil perpustakaan keliling. Sehingga, setiap kecamatan dapat didatangi seminggu sekali. Dengan begitu, setiap kali kunjungan, pihaknya dapat menitipkan kotak buku baik di sekolah maupun perpustakaan desa. Seminggu kemudian kotak buku yang berisi sekitar 100 buku itu diambil kembali dan diganti dengan buku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, masyarakat tidak hanya sekedar membaca buku yang tersedia di mobil, tapi juga membaca buku yang dipinjamkan itu. Kita sudah mulai di SMP 1 Pakis dan SMA Bandongan," terang dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui, kunjungan mobil perpustakaan keliling, memang lebih difokuskan ke sekolah-sekolah. Namun, tidak tertutup kemungkinan mengunjungi puskesmas atau ke desa-desa sesuai permintaan masyarakat. "Memang, belum semua desa terpencil telah terjangkau oleh layanan itu karena keterbatasan sarana dan prasarana. Namun, kami pernah juga mengunjungi desa-desa terpencil atas permintaan dari mahasiswa yang KKN di sana," imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Jawa Pos Edisi Radar Jogja Sabtu 11 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-1445105203924215716?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/1445105203924215716/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=1445105203924215716' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/1445105203924215716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/1445105203924215716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/mobil-perpustakaan-keliling-masuk-desa.html' title='Mobil Perpustakaan Keliling Masuk Desa'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-26262053736543751</id><published>2007-09-15T17:27:00.001-07:00</published><updated>2007-09-15T17:27:59.331-07:00</updated><title type='text'>Arok Pun Doyan Baca di Perpus Malang</title><content type='html'>Arok adalah brandal paling sohor di seantero Malang di zaman batu. Bercelana cawat dengan dada telanjang terpanggang matahari, ia saban hari, siang dan malam, menjadi perompak hutan paling ditakuti saudagar. Tapi Bapa Loh Gawe melihat sebintik kemuliaan di jiwa pemuda ini dan membaptisnya sebagai titisan tint(j)a dewa. Dan kelak, Arok menjadi raja masyhur dan pendiri salah satu kerajaan penting di tanah Jawa. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena brandal, maka jangan harap Arok adalah pembaca kitab dan perenung yang tekun seperti para pandita, walau ia sudah jadi raja-di-raja. Namun bila melihat tampang perpustakaan Singasari (Malang) hari ini, si Arok brandal itu barangkali berpikir banyak kali untuk tak tergoda memasuki perpustakaan yang diurus dengan kesadaran leksikal yang intens. Mirip barangkali kemabukannya ketika melihat betis Dedes yang tersingkap ketika menaiki peraduan menghampiri suaminya si Ametung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang berpikir Perpus Malang ini adalah perpaduan keanggunan pikiran dan kehalusan betis perempuan ting ting bernama Dedes. Walau terlihat feminin, ia sosok kokoh, tegar, dan berwibawa tatkala berhadapan abadi dengan 4 moncong tank di muka Museum Brawijaya di prapatan Ijen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gelontoran dana 500 juta per tahun untuk pembelian dan pemeliharaan pustaka, Perpus Malang memang pantas menyandang salah satu perpus paling berkilau di Indonesia. Masuklah Anda ke ruang lobinya, di sana Anda akan bertemu dengan kelapangan dan 8 pigura sampul buku berukuran besar di gantung di tembok dan kolom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lantai bawah ini kita bertemu kafetaria bakso malang “amanah” yang bersanding dengan ruang unduh internet dan meja kaca koleksi kitab klasik tentang Malang seperti Malangsche Landbouw Tentoonstelling 1898, Stadsgemeente Malang 1914-1913, Malang: Debergstad van Oost-Java, Malang Beeld van een Stad (A van Schaik), sampai Lambang-Lambang Kotamadya Daerah Tingkat II Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tentangnya, terdapat sudut asri menonton televisi yang berpadu dengan tempat koran-koran menggelantung, hingga ruang pameran lukis bernama Anjungan Arok dengan alunan musik gamelan. Sementara di lengan kanan terdapat perpustakaan anak yang teduh, luas, harum, berkarpet tebal, serta selalu dijaga kebersihannya dengan dinding bunga matahari yang dicat berwarna pastel. Untuk perpustakaan umum, kehadiran perpustakaan anak ini tergolong luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju lantai dua kita dihadang baliho besar propaganda mencintai buku: “Orang boleh pesimis, bahkan apatis akan masa depan Indonesia. Tapi orang juga harus sadar bahwa runtuh dan bangkitnya Indonesia adalah masa depan kita bersama. Melalui buku, kita bisa gerakkan energi kebangkitan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun memang berhak optimis, sebab memasuki ruang lantai dua ini ujung mata kita disuguhi deretan buku yang lumayan lengkap dengan sistem pencarian dan peminjaman yang canggih dengan menggunakan sistem komputasi, maket rencana besar virtual library, lengkap dengan kamera CCTV dan tiga televisi kontrol untuk mengincar “perompak” pustaka. Dan hampir semua ruangan perpus ini disirami pendingin udara, bahkan kesejukan dan keharuman ruangan terasa sampai di toilet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meja baca tertata memanjang mengikuti lempengan panjang rak buku. Terlebih lagi ada juga 15 meja baca lesehan yang tiap hari penuh. Macam-macam pula saya lihat tipe pembaca yang datang. Ada yang memang mengerjakan tugas kuliah dengan serius. Namun ada pula niatnya yang-yangan. Supaya terlihat pacarannya lebih intelektual, berselonjorlah sepasangan mahasiswa. Yang cewek bersandar di dinding baca majalah Kartini dengan merelakan bahu kanannya ditumpaki punggung cowoknya yang sedang masyuk membukai buku SMS Cinta berwarna hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mahasiswa, umum, banyak juga pelajar yang berkitar-kitar di perpus itu. Sebut saja Initri, pelajar kelas I SMP Panjura. Jika ada waktu lowong di sekolah hampir dipastikan ia bersama teman-temannya bermain di perpus ini. Dan memang saya melihat sebarisan teman-teman Initri suntuk membaca novel-novel chiklit dan komik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap hari perpustakaan yang diresmikan pada 17 Agustus 1966 atas sumbangan OPS Rokok Kretek ini dikunjungi seribuan orang. Bahkan Sabtu bisa dua kali lipatnya. Minggu tetap buka untuk kunjungan pustaka keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya Pemerintah Malang sadar betul betapa kehadiran perpustakaan menjadi acuan kualitas manusia dan peradaban dalam kota itu. Sekait dengan status Malang sebagai kota tujuan pendidikan, kehadiran perpustakaannya yang berkilau adalah oase penanda bahwa di masa lalunya kota ini pernah besar dan jaya. (Muhidin M Dahlan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-26262053736543751?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/26262053736543751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=26262053736543751' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/26262053736543751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/26262053736543751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/arok-pun-doyan-baca-di-perpus-malang.html' title='Arok Pun Doyan Baca di Perpus Malang'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-6828547672168135979</id><published>2007-09-15T15:43:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T15:45:39.433-07:00</updated><title type='text'>Kabar Buruk dari Perpustakaan Kediri</title><content type='html'>Kabar buruk itu datang juga ketika di bulan Juni saya menyambangi Perpustakaan Kediri. Jadwal telah disusun dan bayangan pun telah padat dalam pikiran, bahwa saya akan bertemu dengan wajah kota tua yang eksotik, kota dengan catatan pengalaman setebal Gunung Kelud, dan aura perpustakaan menggetarkan; yang tatkala menerobos masuk ke dalamnya serupa memasuki genisa-genisa Mesopotamia yang masyhur di mana bau-bau kertas tua segera menyumpal pernapasan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perpustakaan itu terkunci rapat di Sabtu panas. Beberapa kali saya tempelkan muka di lempeng kaca jendela yang membuat saya agak ragu, benarkah ini perpustakaan sebuah kota yang berusia sealaf lebih di mana di sana semua sejarah kota terdokumentasi dengan baik. Sebab yang tampak di dalam dua patung logam berdiri setinggi loteng. Di luarnya ada lempeng prasasti yang bertuliskan Museum Mas Trip. Perpustakaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu memang perpustakaan, Mas. Nggak tahu juga mungkin di atasnya. Hari Sabtu kayaknya libur. Tapi hari-hari biasanya ramai parkir motor di situ,” kata seorang pamongpraja di pos “jagamonyet” di kantor sebelah yang saya temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan yang bercat putih kusam dan toilet yang sangat kotor di lantai dasar itu saya tinggalkan untuk keesokan Seninnya datang lagi. Saya mesti melewati patung di bawah dan sanggar pramuka di lantai 2 untuk sampai ke ruang perpustakaan di lantai 3 dengan membawa satu pertanyaan mengapa perpustakaan ini harus tutup Sabtu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya pun menerima jawaban yang sudah terduga dari kepala Perpustakaannya, bahwa tutupnya mengikuti jadwal kantor pegawai negeri dan bukan jadwal belajar masyarakat. Padahal di depan perpustakaan itu sekolah tetap hidup dan siswa-siswanya berkeliaran di jalanan.&lt;br /&gt;Bahkan, perpustakaan ini pun tak punya nomor telepon mandiri, melainkan masih netek di kantor pemerintah kota. Persis usus birokrasi umumnya. Berbelit-belit. Tampaknya perpustakaan ini hanya dianggap sepele dalam sebuah kota legendaris seperti Kediri. Kehadirannya adalah sebuah ironi sambil lalu. Mendapatkan penghormatan literasi dari sini hanyalah angan-angan barbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku di dalamnya pun kebanyakan buku yang sudah kadaluwarsa. Berharap mendapatkan sejarah kota dan sepak terjang penguasa dan parlementarianya yang memadai dan tak dikoleksi satu pun perpustakaan di Indonesia adalah kesia-siaan. Pun yang ada, alamak, hanyalah Memori DPRD Tingkat II 1977 Kotamadya Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba mencari peruntungan kalau-kalau ada buku penulis dari Kediri. Tak ada. Atau penerbit dari Kediri. Juga tak ada. Lalu saya bertanya kepada Kepala Perpustakaannya berapa jumlah koleksi di perpustakaan ini. “Tak tahu. Yang tahu staf saya. Lagipula saya hanya diangkat di sini,” katanya yang membuat saya bingung dengan kata “hanya diangkat”.&lt;br /&gt;Lalu saya bertanya seasalnya, “Berapa nomor telepon perpustakaan?” Beberapa saat sibuk membuka arsip-arsip di atas meja, lalu menjawab perlahan: “Tak tahu. Staf saya yang tahu.” Apa saja kegiatan perpustakaan ini selain rutin menjadi transaksi pinjam-meminjam. “Biasanya ada lomba mengarang.” Saya bertanya apakah itu program untuk saat ini? “Bukan. Saya kan masih 1,5 tahun di sini. Jadi belum melakukan apa-apa,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit putus asa saya beralih ke salah satu staf di meja paling depan. Seorang perempuan lulusan D3 Perpustakaan Airlangga. Bertanya saya: “Adakah Rendra?” Jawab: “Tak ada.” Adakah Goenawan Muhammad?” Jawab: “Siapa itu, Mas. Kayaknya nggak ada. Tapi perasaan pernah saya baca nama itu di koran.” Chairil Anwar, katanya, ada tiga biji, tapi tak satu pun saya lihat tampangnya. Putu Wijaya satu, terselip di buku anak-anak. Pram ada, tapi entah di mana. Kebanyakan buku sastranya buku tipis keluaran Balai Pustaka lama yang sampulnya sudah lecet-lecet dan di sisi kanan atasnya selalu tertulis: “Tidak Diperdagangkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruangan temaram yang miskin penerangan itu saya gagal total bertualang mengikuti rute-rute perjalanan kota ini atau melihat aksi Mpu Baradah mengucurkan air dari kendi untuk membelah Kediri menjadi dua bagian yang kemudian dikenal dengan Daha dan Panjalu. Dada saya pun gagal tersengal-sengal menyaksikan pasukan Kediri yang lari kocar-kacir mendapat serangan kilat pasukan Tartar yang diboncengi Raden Wijaya via Brantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mendapatkan lagi cerita itu langsung dari kotanya sendiri, tapi musykil. Lalu bagaimana menyalahkan masyarakat pelajar Kediri yang tak rajin membaca, jika perpustakaan kotanya berdiri dengan niat setengah-setengah dan malas membujuk masyarakat membaca. Lagi pula dari genealogi sejarahnya, perpustakaan ini muncul dari ide veteran-veteran perang di bawah naungan Yayasan Trip, dan bukan kesadaran utuh pemerintah kota akan pentingnya perpustakaan sebagai pelita pemandu kecerdasan masyarakat. Apalagi perpustakaan ini dikelola dengan memakai naluri pegawai negeri yang miskin inovasi, bukan naluri seorang pustakawan yang betul-betul mencintai buku dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memang tak tahu berapa besar dana yang disisihkan pemerintah kota dalam perawatan dan pengembangan perpustakaan yang “menumpang” di Museum Trip ini. Saya menanyakannya kepada Kepala Perpustakaan, tapi disuruh langsung bertanya saja ke Pemerintah Kota. Namun melihat kusamnya dindingnya, minimnya koleksi, serta sepinya kegiatan perbukuan akibat miskin inovasi para penjaganya, pastilah hanya sedikit. Padahal besar kecilnya dana itu menunjukkan pemihakan atas pentingnya literasi dalam sebuah kota yang kaya pengalaman hidup seperti Kediri. Apalagi kota ini dianugerahi tanah-tanah pertanian yang luas dan juga menjadi salah satu kota dari 7 kota yang memproduksi rokok terbesar di Indonesia. (Muhidin M Dahlan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-6828547672168135979?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/6828547672168135979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=6828547672168135979' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/6828547672168135979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/6828547672168135979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/kabar-buruk-dari-perpustakaan-kediri.html' title='Kabar Buruk dari Perpustakaan Kediri'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3996177499139376759.post-1852767622597150533</id><published>2007-09-15T15:37:00.000-07:00</published><updated>2007-09-15T15:38:19.682-07:00</updated><title type='text'>Robohnya Perpustakaan Hatta di Jogjakarta</title><content type='html'>Hari ini, 26 April 2007, adalah hari ketika Perpustakaan Hatta di Jogjakarta roboh. Tak ada memang angin puting beliung mengipas-ngipasi daratan Jogja sebagaimana kabar-kabar sebelumnya. Bukan juga para petugas Kamtib kota melakukan vandalisme dengan menggaruk sebuah monumen buku.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan Hatta roboh karena disungsep sepi yang tiada berkesudahan. Hatta pernah bilang bahwa lawan utama di Digul adalah kesepian. Jika tak mampu melawan kesepian itu, maka hitunglah detik-detik kematianmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Perpustakaan Hatta bukan di neraka Digul. Perpustakaan itu menggigil setengah mati di tengah-tengah kota yang disekelilingnya mengacak dengan sombong mal-mal supermewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di depannya pula yang jaraknya hanya sepelontaran ludah, di Gedung Wanitatama Jl Solo, tiap tahun pesta buku digelar dan digeber. Tapi masihkah orang yang datang dan pulang menenteng buku-buku baru atau buku-buku obralan Jusuf Agency tahu bahwa di seberang jalan itu terdapat tonggak-tonggak yang merinci jejak pemikiran Hatta. Sadarkah orang-orang dalam pesta itu bahwa di sana, buku-buku itu berjibaku; bukan dengan tangan-tangan intelektual yang haus ilmu, tapi berusaha bertahan dari rayapan kutu dan sapuan debu langit-langit tripleks gedung yang terjuntai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Juli 2006 silam, setuturan salah satu petugas, Pak Tulus, Perpustakaan Hatta akan diakuisisi UGM. Semua isinya dipindahkan di UPT lantai dua. Namun rencana itu tak kunjung dilakukan. Baru sesiang yang redup itu, semua buku tonggak itu diangkut. Melihat proses pemindahan itu, bagi mereka pernah menjadi pembaca di perpustakaan itu, akan miris. Bayangkanlah seperti para perempuan malam digaruk, dikejar, dicengkeram, lalu tubuhnya dilempar ke atas truk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Hatta buku adalah "perempuan" dan sekaligus menjadi "istri pertamanya" selain Bu Rahmi. Dan perempuan yang membebaskan pikirannya selama menjalani hari-hari neraka di Digul itu, hari ini, diperlakukan dengan tak terhormat. Raga buku itu dibanting dan dilempar ke dalam mobil dengan mental seorang kuli memperlakukan karung-karung beras impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah-majalah seperti Sarinah dan bundelan-bundelan macam-macam majalah berserak-serakan. Saya kemudian berjalan masuk ke dalam mengitari ruangan tempat saya biasanya baca dan duduk sendiri. Tepat di depan foto Hatta yang ada di ruang tengah saya benar-benar terpaku. Foto itu seolah meliuk perlahan, mengangkat bahu yang rentan dan menggeser tubuh rentanya. Ia seperti gumun dan menggumamkan sedih melihat buku-buku penggembleng kecerdasan itu terantuk oleh tangan-tangan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Hatta mencintai buku bukanlah mitos dari sebuah gadangan nama yang besar. Buku adalah monumen pikiran manusia dan dengan buku manusia menjadi waras dan tahu sejarah pertumbuhannya dalam buana yang sempit ini. Dengan tahu sejarah, manusia akan tahu diri dan berendah hati di hadapan mahkamah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jangankan dibuang, dibanting, dan dilempar, dilipat saja kertas bukunya, Hatta bisa meradang dan tak bisa tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut mata dari foto tua itu menggeletar dengan tangan kiri yang bergetar memegangi sebuah buku yang terbuka. Jika Hatta bisa bicara, mungkin ia menghardik parau: "Kejamnya negara yang kubangun ini, vandalnya manusia-manusia di dalamnya yang tak terbiasa hidup dalam pelukan ibu-ibu pengetahuan. Sungguh mereka tak bisa menghargai sejarah bangsanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya berjalan dan menghampiri Pak Fauzi, sang kepala jaga. Saya bertanya, kapan pertama-tama perpustakaan ini berdiri. Kata Pak Fauzi Perpus Hatta sudah berdiri sejak tahun 1950-an di Malioboro. Saya merinding juga. Sudah tua betul prasasti Hatta ini. Dalam sejarah, kebetulan saya mahasiswa sejarah, tua bukanlah kerapuhan dan karena itu mesti enyah mesti musnah. Ketuaan adalah monumen. Ia adalah rumah pulang ingatan ketika tiap hari kita disesaki luapan informasi yang datang menyerbu setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya Perpustakaan Hatta bisa menjadi wisata pengetahuan, sekaligus merefleksikan kembali bagaimana pergumulan Hatta dengan buku. Tapi siapa mau peduli. Kata Pak Fauzi, kondisinya memprihatinkan seperti ini karena memang tak ada yang mau mendonasi. Statusnya juga sebagai “perpustakaan swasta” sudah menjurus pada jauhnya uluran tangan pemerintah. “Sejak Orde Baru memang sama sekali tak terurus dengan alasan Bung Hatta menolak terima bantuan dari Soeharto. Ya alasannya beda pahamlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah berita ketika sebuah perpustakaan terasing(kan) dari pembacanya. Perpustakaan Hatta adalah kesempurnaan kisah bagaimana rumah para buku berteduh dilamun sangsai. Bahkan Meutia—yang kini sudah jadi menteri—dan dua saudaranya, Halida dan Gemala, juga tak banyak membantu. Kalaupun membantu—sedikit sekali dan tak mengubah apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan tanpa navigasi dan donasi, Pak Fauzi pun limbung untuk menggaji karyawan perpustakaan ini. Ia juga heran kenapa Pemda Jogja tak prihatin dan tak pernah memberi santunan sama sekali. Yang lebih menyedihkan lagi... ternyata tanah di mana perpustakaan ini berdiri, tiada lain milik UGM. Bahkan dalam hidupnya yang sudah setengah abad itu pun, ia hanya numpang di lahan orang. Betapa antiklimaksnya kisah perpustakaan historik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah perpustakaan ini disingkirkan, entah diperuntukkan untuk apa tanah itu. Semoga saja bukan untuk mall. Kalau itu terjadi lengkaplah nestapa Hatta. Ia dengan berdarah-darah membangun konsepsi ekonomi Indonesia dengan menulis buku-buku babon ekonomi; dan justru ekonomi pula yang mengalahkan dan menghancurkan buku-buku warisannya.&lt;br /&gt;Boleh jadi buku-buku Hatta itu akan terawat dengan baik di Perpustakaan UGM, yang kabarnya sih akan diberi rak khusus yang diberi nama Hatta Collection. Namun kisah tentang pemindahan itu menandai bahwa begitu rapuhnya kita ini menjaga monumen-monumen ingatan tentang Hatta. Urusannya memang tiadanya perawatan atas buku-buku lawas Hatta itu. Ujung urusan juga pada akhirnya ketiadaan uang. Susah untuk mengandai-andai, mana yang duluan: uang atau kreativitas mengelola perpustakaan. Sebab nyaris semua orang juga tahu, bahwa jika tak ada sepotong nama Hatta di bangunan yang berdiri di atas tanah yang jembar itu, bangunan itu sangat representatif untuk syuting film-film horor saking wingitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, bukan cuma tripleksnya yang menggelambir dari langit-langit dan cat dindingnya yang kusam dicengkeram lumut dan rumput-rumput liar; tapi juga nama Hatta pun ikut musnah dari Jalan Solo itu. Inilah akhir dari pertarungan Perpustakaan Hatta melawan rasa sepi menyayat di tengah kota yang kian gila ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib perpustakaan ini memang hanya mengulang setepat-tepatnya ucapan Hatta lebih dari setengah abad silam di Tanah Merah sebagaimana sudah saya kutipkan di awal artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ditulis Reni Nuryani dan disunting kembali Muhidin M Dahlan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3996177499139376759-1852767622597150533?l=perpustakaan-iboekoe.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/feeds/1852767622597150533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3996177499139376759&amp;postID=1852767622597150533' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/1852767622597150533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3996177499139376759/posts/default/1852767622597150533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perpustakaan-iboekoe.blogspot.com/2007/09/robohnya-perpustakaan-hatta-di.html' title='Robohnya Perpustakaan Hatta di Jogjakarta'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
